Belakangan, maraknya persebaran virus baru corona (Covid-19) benar-benar menyita perhatian dunia. Ya gimana enggak? Pergerakannya begitu masif, cepat dan hampir sulit dikendalikan. Dalam hitungan bulan, virus ini bermutasi, bergerak dan menginfeksi ribuan orang di seluruh dunia. Dimulai dari Tiongkok, Jepang, Korsel, Iran, Italia, Perancis dan hampir semua daratan Eropa, hingga ke Amerika. Kabarnya, proses persebaran virus ini bahkan jauh lebih cepat ketimbang MERS dan SARS yang mendahuluinya beberapa tahun silam. Sungguh sebuah cobaan berat di awal tahun 2020 ini.

Beragam kebijakan telah diambil di berbagai negara untuk menghambat persebaran virus ini. Mengingat sampai saat ini belum ada vaksin atau obat untuk penyakit ini, nggak heran kalau semua orang dihinggapi ketakutan. Pemerintah beberapa negara telah melakukan lock-down. Harapannya adalah untuk menekan angka penularan virus dan mencegah terjadinya tingkat kematian pasien ke level yang lebih tinggi lagi.

Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Sampai hari ini saat tulisan ini saya publish, belum ada perintah resmi untuk lock-down baik dari level nasioal maupun daerah. Sebagai negara kepulauan yang begitu besar, rasanya memang kebijakan ini butuh banyak pertimbangan mendalam. Akan sulit rasanya mengontrol pergerakan masyarakat dengan jumlah yang sedemikian besar dan wilayah yang bisa diakses dari mana saja ini.


Baca juga : Manfaat Finger Painting untuk Anak

Kemudian bagaimana langkah berikutnya?


Sesuai instruksi keamanan dari pemerintah dan lembaga kesehatan nasional dan internasional, masyarakat disarankan untuk melakukan beberapa hal berikut:

1. Menjaga social distancing
Mengingat persebaran virus ini dari dropplet, maka menjaga jarak dengan orang lain minimal 1 meter sangat disarankan.

2. Menjaga kesehatan dengan menjalankan pola hidup bersih

Pola hidup bersih bisa dilakukan dengan rajin mencuci tangan atau memakai hand sanitizer. Selain itu, kalau abis pergi-pergi atau beraktivitas di luar rumah, segera mandi dan berganti baju sebelum menyapa keluarga ya. Jika sedang beraktivitas di luar rumah, usahakan untuk meminimalkan kontak fisik dulu untuk sementara.

3. Menjaga asupan makanan yang bergizi.

Makan bergizi seimbang, mencukupi kebutuhan sayur dan buah, minum cukup air dan bisa juga dibarengi dengan konsumsi vitamin C sangat bagus untuk dilakukan. Hal ini untuk mendukung stamina tubuh biar kuat dan virus ogah mampir.

4. Mencukupi waktu istirahat bagi tubuh

Tubuh yang mendapat istirahat cukup sangat baik untuk melawan serangan virus. So, usahakan untuk nggak kekurangan waktu tidur ya Moms and Dads. 

5. Tetap positive thinking
Menjaga pikiran agar tetap positif juga terbukti meningkatkan kekebalan tubuh loh. Jadi meski kita harus tetap waspada, tapi hati tetep tenang dan berdoa ya ..

Yang dilakukan kemudian adalah pilihan kedua yakni “meliburkan sekolah” dengan harapan bisa menekan mobilisasi dan persebaran virus, mengingat masa inkubasi virus Covid-19 ini adalah 14 hari. Nah, sebagai orangtua full time yang 24 jam bakalan ada di rumah barengan bocah, terkadang kita suka mati gaya nih mau ngapain aja huhuhuhu. Iya nggak sih?

Tenang Moms… kali ini saya mau sharing dikit aja tentang apa aja yang bisa kita lakukan selama “libur sekolah” selain belajar tentunya. Well, anggap saja kita lagi joining with home schooling ya… biar kesannya elite gitu waahahaha…

Baca juga : Cara Mudah Ajari Anak Berhitung




Kuy, intip kegiatan saya sama Kevin selama di rumah berikut ini ya

1. Jalan pagi
Poin pertama ini kayaknya agak sulit kan dilakuin kalau pas hari-hari biasa. Nah pas “libur” sekolah ini, kita bisa ajak si kecil jalan-jalan sebentar di sekitar rumah. Nggak usah jauh-jauh, kok. Itung-itung sambil belajar mengenal lingkungan kan? Asal, jangan lupa ya Moms sesampai di rumah harus segera cuci tangan.

2. Olahraga ringan
Di sekolah Kevin, setiap hari sebelum mulai belajar para guru biasanya mengajak siswanya untuk berolah raga. Nah saya juga ngajakin Kevin untuk senam pagi seperti biasa. Musiknya? Bebas. Tinggal setel mana lagu yang paling dia suka dari Youtube atau media lainnya. Mayan kan, Emaknya bisa sekalian gerak.

3. Ajak anak melakukan kegiatan domestik
Nah poin ketiga ini bakalan sedikit menguntungkan. Mumpung di rumah, yuk ajak si kecil melakukan aktivitas domestik. Misalnya merapikan mainan, menyapu atau beberes kamar dan ruangan kecil. Buat Mommies yang pengen ngajak anak-anak ke dapur boleh juga sih. Pastikan barang-barang berbahaya seperti termos air panas, pisau, pecah belah dan kompor berada di tempat yang aman ya. Meski rumah akan berantakan, relain aja deh Moms. Kapan lagi ngajarin anak untuk beraktivitas seperti ini? Setuju yaa…

4. Belajar online


Bagi beberapa sekolah yang sudah siap, anak-anak bisa belajar online dengan gurunya via beragam media. Hal ini tentu sangat meringankan “beban” ortu untuk mengajari anak. Tapi, buat kita-kita yang sekolahnya belum semaju itu, ada yang masih dikasih materi dalam bentuk fisik dan itupun terbatas. Don’t worry Moms. Ada banyak portal belajar online yang bisa kita akses for free. Next postingan akan saya bahas ya…

5. Bersosialisasi di dunia maya
Yang namanya anak-anak tuh gampang bosyen! Biasa bermain sama temen-temen di sekolah, tentu jenuh kalau setiap hari ketemunya emak lagi-emak lagi. Karena itu, nggak ada salahnya kita ajak anak untuk melakukan video call dengan saudara atau teman-temannya. Meski nggak “real” anak akan sedikit terhibur melihat penampakan mereka di layar kaca. Mau lebih eksis? Ngevlog bisa jadi pilihan yang fun pastinya!

Kalau Mommies punya ide lain buat ngisi waktu belajar di rumah? Boleh banget lho sharing di kolom komentar. Thanks for reading Moms.

Stay safe and healthy ya!


View Post

“AKU NGGAK MAU PULANG!”

Seorang bocah lelaki berkulit putih dengan rambut lurus hampir menyentuh bahu berteriak kencang di tengah halaman sekolah. Kakinya bergoyang keras akibat entakan kuat yang sedari tadi dilancarkannya. Mata penuh air dan napas tersengal-sengal membuat penampilannya agak “horror” pagi itu.

Si ibu berdiri di hadapannya dengan tatapan yang nggak kalah galaknya. Sementara tangan kirinya sibuk menggendong bayi kecil yang mulai terbangun dari lelapnya. Mungkin kepanasan kena sinar matahari pagi atau terganggu dengan teriakan sang kakak dan mamanya, membuat mata sipitnya terbuka dan mulai menangis.

“Kalau kamu nggak mau sekolah, tapi nggak mau pulang juga, trus maunya apaaa?” Si ibu udah mulai marah, dan groyok (Jawa: suaranya bergetar menahan tangis atau amarah). Adegan berikutnya kedua kakak beradik itu sama-sama menangis keras, hanya berbeda akting. Si kakak menangis meraung sambil nggondeli kaki ibunya, sementara si adek menangis sambil meronta dalam gendongan. Dan si ibu? Menahan amarah dengan muka merah yang udah kayak kepiting rebus. Adegan selanjutnya, perdebatan semakin panas.

Ini bukanlah kali pertama ibu dan anak ini terlibat dalam adegan “panas” yang menegangkan seperti ini. Jadi kalau saya amati, si anak ini sering “mencobai” ibunya dengan melakukan hal-hal gak penting hanya untuk tau reaksi ibunya gimana. Contohya dia akan selalu keluar kelas cuma untuk nanya bekal apa hari itu. Padahal dia kan tinggal buka kotak bekalnya lalu memakan isinya kan? Tapi hal ini selalu dilakukannya setiap hari. Udah gitu, maemnya maunya disuapin, nggak mau makan di kelas barengan temen-temenya yang lain. Kalau si ibu menegurnya, dia akan segera menangis, merengek dan melakukan hal-hal lain yang menyebalkan. Gemeez pokoknya deh. 




Saya menatap dari kejauhan pemandangan yang uwow pagi itu. Buat mak emak seperti saya, adegan-adegan serupa itu mungkin udah jadi cemilan harian. Namanya juga anak-anak. Nggak afdol kalau ngga nangis atau rewel sesekali.

Anak-anak memang mudah sekali berubah mood. Istilah kerennya mood swing. Dalam hitungan detik atau menit suasana hatinya bisa berubah. Orang tua atau pengasuhnya harus benar-benar pinter memahami dan kemudian menyikapinya dengan tepat.

Sayangnya, bagi sebagian anak, mood swing ini juga bisa berarti mereka bisa saja mengalami tantrum, marah tanpa alasan yang jelas atau menangis tanpa sebab. Dan inilah yang pada akhirnya bisa menjadi masalah lain, terutama kalau kondisi lingkungan sekitarnya nggak kondusif. Contohnya seperti opening story di atas. Kebayang kan riweuhnya si ibu? Lagi ngegendong bayi yang tertidur, si kakak rewel dan tantrum, udah gitu diliatin banyak orang. Maluuuuu Mak!

Dan kabar buruknya (atau baik ya?) adalah…. Kehormatan kita sebagai orang tua dipertaruhkan dalam kasus-kasus seperti cerita di atas. Apakah anak akan patuh pada keputusan kita, atau justru kita yang mengalah sama kemauan anak dengan alasan : MALU diliatin orang.

Well, jadi orang tua emang banyak PR-nya. Nggak hanya sekedar mbrojolin dan ngasih susu trus selesai. Kita juga harus membentuk anak menjadi pribadi yang baik, bukan? Dan itu termasuk mendidik karakter mereka setiap harinya lewat peristiwa-peristiwa seperti di atas.

Secara teori, marah itu manusiawi dan wajar. Manusia memiliki emosi yang memang harus diekspresikan. Hanya saja, anak-anak harus belajar bagaimana mengelola emosi dan amarah dengan benar. Dan ini adalah tugas orang tua untuk mengajari mereka tentang hal ini, tentu saja dalam kerangka dan kemampuan di usia mereka.

Seiring perkembangannya, anak-anak akan memiliki kemampuan berkomunikasi dan bargaining yang tinggi. Nah, sebelum mereka mampu mengambil keputusan sendiri kelak, orang tualah yang harus pegang kendali. Membiarkan anak-anak membangkang, sering berulah, membentak dan menuntut berlebihan hanya akan membuat mereka tumbuh jadi pribadi yang “menyebalkan” di masa depan. Hal ini tidak hanya berbahaya bagi orang lain, tapi juga bagi dirinya sendiri. Risiko dikucilkan dan jadi orang yang nggak disukai di lingkungan bisa jadi ancaman serius buat masa depannya.




Bagaimanapun juga, anak-anak harus tahu bahwa orang tua tetaplah orang tua yang harus mereka hormati dan segani. Orang yang memegang kendali atas mereka. Paling tidak sampai mereka aqil balik dan bisa mengambil keputusan lain secara mandiri. Dan di sinilah orang tua harus tegas tanpa perlu menjadi otoriter dan menyeramkan.


It is well said:

Mendidik anak bukanlah tentang seberapa seringnya kita membiarkan mereka berjalan pada relnya sendiri. Mendidik anak adalah tentang membangun karakter, sesuatu yang akan melekat seumur hidupnya. Tekankan rasa hormat padanya sedini mungkin, dan jadilah teladan dalam hal itu. Ibu yang kuat dan cerdas adalah ibu yang tahu kapan harus mengalah dan kapan saatnya berkuasa.
Bety Kristianto – Great Mom, Strong Son






View Post
"Bu, Kevin ini anak yang spesial loh. Nggak banyak orang yang terlahir dengan gift seperti dia. Hanya 3 dari 100 orang yang memiliki keistimewaan seperti Kevin. Jadi, ibu dan bapak juga harus men-treatment dia dengan istimewa,” ucap bapak-bapak di depan saya setelah menganalisis sidik jari Kevin.

Beberapa hari sebelumnya, Kevin memang mengikuti tes analisis sidik jari yang digagas pihak sekolah bekerja sama dengan salah satu lembaga di Jogja. Dulu, waktu Rafael kecil juga mengikuti tes semacam ini, dan karena menurut saya hasilnya bantu banget buat mengenali karakter anak, makanya saya nggak ragu lagi mengikutkan Kevin dalam tes yang sama.

Meskipun judulnya tes, tapi kita nggak perlu khawatir sih. Soalnya, anak-anak nggak disuruh ngerjain apa-apa, selain diambil sidik jarinya doang. Dan itupun nggak takes time. Cukup 5-10 menit semuanya kelar. Yes, as simple as that! Hasilnya bisa diketahui dalam beberapa hari ke depan.

Saya menyusuri layar laptop yang berkedip-kedip di hadapan saya. Tangan si bapak menggerak-gerakkan mouse dan beberapa kali beralih ke layar sambil menjelaskan masing-masing sidik jari yang muncul di sana. Saya manggut-manggut menatap layar biru yang berganti-ganti gambarnya itu.

Baca juga yang ini : Tips Mencari Sekolah yang Tepat untuk Anak

“Dengan karakteristik dasar Kevin yang seperti ini, orangtuanya harus memberikan banyak kesempatan untuk dia bereksplorasi ya Bu. Nggak usah banyak dilarang ini itu, dia akan bisa berkembang dengan maksimal. Dia punya unlimited ability yang hanya bisa berkembang maksimal kalau bapak dan ibu ijinkan. Di sisi lain, Kevin juga punya kemauan yang keras, dia sangat menggemari target, dan suka berkompetisi. Dia berbakat menjadi leader dan memiliki kemampuan interpersonal yang sangat kuat. Biarkan dia membangun bonding dengan lingkungannya dengan baik.” Si bapak masih melanjutkan penjelasannya barusan.

“Lalu gimana dengan sisi kecerdasannya, Pak?” Saya nyelo dengan pertanyaan yang jamak dilontarkan oleh orangtua. Ya, apalagi sih yang nggak jadi perhatian ortu kalau bukan masalah kepandaian? Yekaaan?

Alih-alih menjawab, si bapak tersenyum sama saya sebelum berujar, “Tenang Bu, semua anak punya kecerdasannya masing-masing. Nggak perlu kawatir, mereka semua akan berkembang maksimal kalau kita menstimulasinya dengan tepat. Nanti kami jelaskan gimana caranya.”

Haha.. aduuuh jadi malu saya. Ketauan deh keponya simboke Kevin ini. Muka saya kayaknya uda ketauan banget pengen tauk gitu.

“Jadi, berdasarkan hasil analisis yang kami lakukan ini, Kevin itu cenderung lebih banyak memakai otak kanan ya Bu. Kemampuan logika matematikanya paling menonjol ketimbang yang lain. Setelah itu, dia juga memiliki kemampuan visual spasial yang sangat kuat, serta verbal language yang tinggi. Sementara itu, dia juga sangat nyaman dan menikmati waktu-waktu berkesan dan reward. Jadi, usahakan bapak sama ibu mendukung dan memfasilitasi talenta dan bakatnya yang seperti ini.”

Saya makin manggut-manggut antusias mendengarkan penjelasan si bapak. Memiliki dua anak “otak kanan” membuat saya langsung kebayang deh gimana yang akan trjadi di masa depan. Yes, Rafael, si Mbarep, juga anak “otak kanan” yang lebih dulu membutuhkan treatment khusus saat masih kecil dulu.

Gimana nggak spesial, Rafael kecil di usia 3 tahun udah bisa bikin lego yang rumit -menurut ukuran anak seusianya- Di usia TK dia sudah bisa merakit lego citi dalam waktu 2 jam tanpa bantuan, membuat lukisan yang sangat detail, dan menghafalkan notasi lagu-lagu yang saya aja nggak ngerti. Bukan nyanyi loh, ya. Tapi memainkan alat musik dengan notasi liriknya.

Bacaan terkait : Manfaat Finger Painting untuk Kecerdasan Anak

Yang bikin saya agak pusying adalah saat mengajarinya belajar. Terutama matematika dan bahasa, serta hafalan. Nah kan susah ya Moms. Itung-itungan dia gak tertarik, menghafal pun gak mudah baginya. Sementara belajar Bahasa menjadi momok yang menakutkan baginya, sampai-sampai beberapa kali dia nervous parah dan mual-mual saat pelajaran bahasa asing di sekolahnya. Hiks...

Sebelum mengenal dan memahami karakteristiknya, saya sempet stress. Rasanya nightmare banget kalau udah jamnya belajar tiba. Nggak hanya saya yang abis akal, Rafael juga tertekan dengan bermacam tugas dan pelajaran yang harus dia kerjakan.

Thanks God, dengan adanya hasil analisis sidik jari yang dia ikuti, saya jadi lebih paham kondisinya dan mulai mencari cara yang tepat untuk mengajarinya belajar. Salah satu cara yang saya pakai adalah dengan memakai metode mind mapping saat Rafael harus menghafal. Ini jauh lebih mudah baginya, ketimbang membaca deretan kalimat yang pada akhirnya nggak satupun yang nyantol di otaknya. Huhuhu….

How to treat right brained children
Sumber gambar : harapanrakyat.com


Mengenal Kedua Belahan Otak

Sebelum bicara lebih lanjut soal anak-anak otak kanan saya, yuk kita mengenal lebih dekat soal otak kita. Jadi manusia itu punya dua belahan otak, yakni otak kanan dan otak kiri. Masing-masing memiliki fungsi yang berbeda. Secara natural dan genetis, manusia cenderung lebih banyak memakai pola atau metode pemikiran tertentu. Meski demikian, sebenernya kedua belahan otak ini sangat sulit dipisahkan begitu saja. Ya kayak sendal jepit deh. Ke mana-mana harus berdua #halah oposeh#

Nah, menurut para ahli nih, otak kanan dan otak kiri punya “wilayah’’ nya sendiri-sendiri. Hihihi kok jadi kayak geng-gengan gitu ya Moms. Penasaran nggak sih gimana pembagian wilayah otak ini? Kuy kita lanjut ya…

Otak Kiri

Bagian otak ini berhubungan dengan logika, rasio, kemampuan kognitif (membaca dan menulis), serta pusat Intelligent Quotient (IQ).

Otak Kanan

Berhubungan dengan seni, kreativitas, musik, ekspresi, serta menjadi pusat dari Emotional Quotient (EQ)

So, berdasarkan pembagian wilayah otak tadi, kita bisa menemukan beberapa tanda yang biasanya ditemui pada orang-orang yang “cenderung otak kanan” atau “cenderung otak kiri”


Ciri-ciri orang yang dominan otak kanan

  • Biasanya mereka kurang menyukai pelajaran yang “memaksa” otak bekerja keras seperti matematika, Fisika, Kimia, dan ilmu sains lainnya. Mereka akan lebih memilih pelajaran seni, bahasa, dan hal-hal lain yang imajinatif. Mereka cenderung intuitif dan kurang mementingkan fakta saat mengambil keputusan. Mereka juga sangat peka dan sensitif.
  • Dalam dunia kerja, orang otak kanan senang berada dalam bidang sosial, kreatifitas, seni, dan yang berhubungan dengan manusia seperti PR.
  • Mereka kurang nyaman dengan keteraturan dan lebih menyukai kebebasan. Senang jalan-jalan, menikmati suasana, berpetualang dan mencoba hal-hal baru. Mereka juga bisa menghafal dengan cepat tempat-tempat, logo, tanda-tanda atau petunjuk jalan yang ditemui sepanjang perjalanan. Nggak hanya itu, anak-anak otak kanan juga gampang banget ngafalin berbagai jenis benda seperti merk mobil, jenis pesawat, dan banyak lagi bahkan di usianya yang masih sangat kecil.
  • Sering kali susah berkonsentrasi pada hal-hal yang kurang diminati, tapi sangat berkonsentrasi pada hal-hal yang dia sukai. Pada beberapa anak, bisa juga mengalami kesulitan belajar. Mereka juga sering bicara nggak nyambung dengan topik atau pertanyaan yang diajukan. (duh ini Rafael banget hahaha).
  • Suka banget permainan merancang sesuatu seperti lego. Kenapa? Karena mereka bisa bebas berimajinasi dan membuat aneka macam barang sesuai keinginan.
  • Sebagian besar anak-anak otak kanan sulit membedakan huruf d dan b, W dan M serta susah mengeja suku kata. Selain itu mereka juga sulit mengerjakan soal matematika yang penuh rumus dan logika. Terkadang, ada juga yang kesulitan mencerna soal cerita. Mereka kurang suka mencatat. Tapi suka banget menggambar hehehe. 
  • Anak-anak otak kanan biasanya suka termenung, memandang ke atas dan seperti mencari ide atau wangsit (day dreaming).


Ciri-ciri orang yang dominan otak kiri

  • Menyukai pelajaran yang mengandalkan logika seperti matematika, IPA, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan sains. Mereka lebih mudah memahami simbol-simbol seperti angka, huruf, atau rumus. Mereka juga lebih nyaman melakukan segala sesuatu berdasarkan teori dan jarang-jarang yang mau berimprovisasi. Jadi kalau perintahnya A ya mereka akan melakukan A aja.
  • Orang otak kiri cenderung cocok bekerja sebagai peneliti, teknisi, akuntan, dokter dan ilmuwan lainnya.
  • Lebih mengutamakan logika dalam pengambilan keputusan, disiplin, berpikir taktis, mementingkan fakta, menyukai keteraturan, jadwal yang terplanning dan mudah memahami konsekuensi tertentu.
  • Mereka juga penuh perhitungan matang sebelum melakukan sesuatu. Mereka suka melakukan sesuatu sesuai planning, urutan dan time line yang sudah ditentukan.

how to treat right brained children

Lalu, manakah yang lebih bagus? Dominan otak kanan atau otak kiri?

Jawabannya tidak ada yang lebih bagus. Karena sekali lagi, kedua belahan otak ini bukannya berdiri sendiri-sendiri dan terpisah begitu saja. Tetapi, keduanya berjalan selaras meski tetap ada bagian yang lebih mendominasi.

Menurut penelitian, sebagian besar manusia di dunia ini lebih dominan menggunakan otak kirinya. Kenapa? Karena kecenderungan pola belajar di seluruh dunia ini didominasi dengan hal-hal yang mengasah kemampuan otak kiri seperti membaca, menulis dan berhitung.

Kadang-kadang anak-anak otak kanan sering dianggap “nakal” atau “bodoh” hanya karena nilai akademisnya di sekolah kurang cetar. Huhuhu… 


Padahal nggak gitu juga kaliii.. mereka itu nggak bodoh. Mereka hanya butuh treatment berbeda untuk memaksimalkan potensi dan karakter mereka yang out of the crowd. Nah… di sinilah tugas ortu untuk memahami karakter anak dan melakukan treatment yang tepat.

Berhubung anak-anak saya otak kanan semua, saya jadi harus berimprovisasi juga nih Moms hahaha. Kurang lebih begini yang saya lakukan bersama mereka.


  • Karena otak kanan suka hal-hal yang menarik minatnya, maka sebisa mungkin saat mengajarii mereka belajar, saya akan mengajak mereka menemukan apa yang menarik perhatiannya saat itu. Misalnya mobil. Maka saya akan bercerita tentang mobil dan memancing mereka untuk terlibat. Baru setelah itu saya memasukkan materi belajarnya. Contohnya 4 roda mobil ditambah 4 roda mobil lagi jumlahnya berapa? Agak ribet sih, tapi it works! Ketimbang nulis angka 4+4= …
  • Terkadang anak otak kanan nggak betah duduk berlama-lama, terutama jika harus melakukan hal-hal yang kurang dia sukai, termasuk belajar. Apalagi kalau anak otak kanan yang dominan kinestetiknya huaaa… capek Marimar nyuruh dia duduk anteng. Jadi, saya membolehkan mereka belajar dengan metode suka-suka. Mau sambil nungging, boleh, sambil jalan-jalan boleh, sambil tempel-tempel di dinding pun boleh. Selama itu membantu mereka menghafal atau mempelajari sesuatu, sok aja sayamah.
  • Meskipun cara berpikir anak otak kanan cenderung acak/random, tapi mereka menyukai target yang terukur. Jadi, saya suka memberi pancingan mereka untuk menentukan target apa yang mereka inginkan. Misalya, Kevin mau nanti sore bisa mewarnai gambar kelincinya sampai selesai. OK, noted. Sorenya saya akan mengajaknya menyelesaikan planningnya itu. Demikian juga si kakak yang dengan sukarela menabung demi membeli peralatan musik yang dia inginkan. Kenapa sukarela? Karena dia suka, dan emang pengen punya peralatan itu untuk mendukung hobi bermusiknya. Saya nggak nyuruh-nyuruh dia beli ini itu loh, semua murni dari keinginannya sendiri. 
  • Anak otak kanan berpikir dengan cara pandang deduktif, yakni melihat big picturenya, baru mengerucut ke detailnya, maka saya harus mengajak mereka berpikir apa sih untungnya belajar buat mereka di masa depan? Dengan memahami tujuan akhir yang ingin dicapai, lebih mudah bagi saya men-drive mereka untuk belajar tanpa harus teriak-teriak nyuruh ini itu macam tarzan kota.
  • Anak otak kanan saya cenderung menyukai gambar jadi saya menggunakan metode mind mapping untuk mengajarinya belajar. Ya nggak semua pelajaran juga sih tapi secara umum metode ini ngebantu banget. Bikin otak mereka terstimulasi lebih cepat ketimbang nyuruh mereka membaca kalimat demi kalimat panjang yang membosankan.
  • Karena anak-anak otak kanan sangat peka dan sensitif perasaannya, akan sangat membantu untuk membuat proses belajar menjadi suasana yang menyenangkan dan nggak membebani. Saya juga sering kali mengajak Rafael ngobrol bahwa saya bangga sama dia, apapun kondisinya. Saya motivasi dia untuk menemukan kelebihannya dan berprestasi di bidang itu. Masa depan nggak hanya milik mereka yang jago matematika atau kimia dan teknik. Dunia ini nggak hanya butuh dokter dan ilmuwan tapi juga artis dan pekerja seni yang talented.

Karena itu saat dia memutuskan untuk masuk SMK instead of SMA, saya dan papinya pun tak keberatan. Walaupun tetap, keputusan itu diambil setelah proses diskusi yang panjang dan komprehensif. Saya nggak ingin menyesal di kemudian hari karena memaksakan keinginan saya pada anak-anak.

Memiliki anak-anak yang "berbeda" memang nggak mudah. Di saat orang lain hepi anak-anaknya melakukan A, sementara anak kita "hanya" bisa melakukan B, seringkali bikin kita minder. Atau, saat anak-anak yang lain femes di sekolah, dan anak kita masuk golongan "marginal" kadang bisa bikin kita down.

💕But I wanna tell u something, Moms. Being different itu nggak papa. It's not a mistake nor a sin. They are just simply special, so we have to treat them in a special way.💕


Percayalah, ada jutaan bintang yang sama-sama bersinar di langit sana. Demikian juga anak-anak spesial kita pasti akan bersinar sama terangnya dengan yang lain, dalam cara yang berbeda.


Happy parenting, Moms and Dads!



View Post


"Kak, nanti siang beli makan di sekolah aja dulu nggak papa?” tanya saya sama si Sulung yang segera dijawab dengan anggukan. Rafael lagi sibuk mempersiapkan keperluan sekolah sambil berganti baju setelah mandi. Sementara si Papi lagi beberes di bawah dan nyiapin mobil.

“Adek nanti maemnya pakai telor dadar dulu ya, di sekolah.” Saya memasangkan baju seragam Kevin sambil yang masih setengah mengantuk.

“Memangnya Mami nggak bikin sayur?” Saya menggeleng. Pagi itu saya memang bangun kesiangan. Biasanya sekitaran subuh saya udah sibuk nguplek dapur nyiapin sarapan. Gara-gara semalem ngabisin episode trakhir Drakor yang lagi seru-serunya, jadi deh jam 5 lebih baru melek dan cuman sempet masak nasi doang. Itupun pakek rice cooker yang tinggal colok.

“Nanti sore Mami baru masakin cah brokoli ya, sama ayam krispi. Oke? Sekarang kita berangkat dulu, nanti kesiangan,” bujuk saya pada si bontot yang rada manyun. Dia memang terbiasa makan pake sayur apapun. Jarang-jarang dia makan keringan gitu.

Tapi ya mau gimana lagi, dalam kondisi emergency seperti sekarang ini, saya lebih milih memberi mereka makanan “instant” ketimbang telat masuk sekolah hanya karena saya maksain masak lauk pauk lengkap seperti biasanya.

Mbok wes to Mami tu makannya jangan kecapekan. Kalo Mami maksain ngerjain semuanya sendirian tuh nggak bagus juga to buat Mami sendiri. Aku aja yang ngeliatin capek kok. Apalagi Mami.. “ Rafael tetiba nyerocos panjang sambil ngunyah sarapannya yang hanya nasi putih, telor ceplok dan kecap manis. Jalanan pagi itu agak macet, mungkin karena efek abis liburan panjang dan itu adalah hari pertama masuk sekolah. Jadi yaaa… kebayang kan dramanya kek gimana.

“Abisnya Mami tuh nggak bisa je, ngeliat rumah tuh berantakan. Pengennya semua beres, bersih, baru ngaso gitu…” balas saya.

“Iya Mi, jangan sampe sakit loh. Pulang liburan malah sakit kan kasian Mami. Kalok Mami sakit tuh, repot.” Suami saya ikutan nimbrung sambil melirik dari spion tengah. Saya meringis antara masih ngantuk, capek, dan agak kesel.

Bacaan terkait: Hamil itu Nggak Mudah! Pikir Baik-baik Sebelum Hamil Ya

Well, jadi buk ibuk itu emang nggak gampang ya Temans. Maunya sih ya kayak yang Rafael bilang itu: santai sejenak, nikmatin waktu dan leyeh-leyeh. Sebentar saja. Hanya sekejap.

Tapi… apakah itu mudah, Fergusso?
NOPE!

Berapa banyak coba, perempuan yang bisa bener-bener nikmatin waktu sendiri tanpa memikirkan hal lain? Saya aja kalau pengen me time di rumah harus tunggu anak tidur dulu. That’s why saya rela ngabisin malam buat nonton Drakor.

Buk ibuk udah sangat identik dengan kata ribet dan belibet. Opo-opo digawe susah, makane gampang muring-muring. Duhhh… bener begitukah?

Dari beberapa referensi yang saya baca, perempuan itu memang makhluk yang unik. Secara genetik, otak perempuan itu akan berpikir dengan pola yang sedemikian rupa sehingga bisa bekerja pada dua sisi otak. Itulah yang jadi alesan kenapa kita-kita ini multitasking.

Nah bicara soal multitasking ini, ternyata nggak semuanya berdampak positif loh Moms. Tau kenapa? Karena dengan kemampuan multitasking ini, perempuan jadi lebih sensitif dan cenderung punya high expectation untuk dirinya sendiri. Pada tahap tertentu, hal ini nggak akan jadi masalah serius. Hingga pada level tertentu bisa jadi bumerang buat diri sendiri.

Ada banyak perempuan (baca: ibu) yang punya standar tinggi dalam hidup sehari-hari, akhirnya harus bergulat dengan pencapaian. Dalam hal ini, saat kita nggak bisa Menuhin target pribadi, akhirnya uring-uringan dan stress melanda. Hiks… itu cuma saya aja atau emang hampir semua perempuan kayak gitu ya?

Eh, ngomong-ngomong soal target tuh nggak hanya berarti yang muluk-muluk loh. Sekedar “jam berapa harus selesai nyetrika” atau “kapan anak harus bisa makan sendiri tanpa disuapin” bisa juga jadi target yang luar biasa menyiksa buat beberapa orang. Belum lagi target seperti “Aku nggak boleh marahin anak, aku harus jadi ortu yang lembut” juga ternyata jadi tolok ukur pribadi yang nggak jarang justru menjadi sumber stress yang berbahaya.

Image Source:. Unsplash.com/Kinga Cichewics

Dalam beberapa parents gathering dan diskusi dengan temen-temen profesional, saya menemukan ada banyak kasus (((kasus))) di mana ibu-ibu tuh suka jadi merasa tertuduh dan bersalah saat target-target pribadi itu nggak tercapai. Mungkin buat orang lain, hal seperti ini tampak sepele.

Contohnya ada loh mak emak yang stress berat dan ngerasa gagal jadi ibu yang baik, hanya karena nggak bisa niruin cara bicara seorang psikolog anak idolanya. Jadi si ibu ini menetapkan dalam pikirannya bahwa ibu yang baik itu nggak boleh teriak, nggak boleh marah, nggak boleh mengatakan kata-kata tertentu pada anak. Padahal, sesekali teriak kan nggak dosa, to? Asal, memang kondisinya darurat.

Nah, si ibu ini berusaha menerapkan tips-tips parenting dari psikolog idolanya ini plek ketiplek dengan harapan menjadi the best mom ever! So, saat dia nggak bisa memenuhi salah satu variabel yang dia ciptakan sendiri, hidupnya berakhir dengan self guilty feeling dan selalu ngerasa gagal jadi ibu. Ujungnya? Suaminya harus bawa dia bolak balik ke psikolog untuk memulihkan jiwanya.

Ada lagi buk ibuk yang selalu maunya masak sendiri, anak-anaknya nggak boleh makan di luaran, nggak boleh main kotor-kotoran, pokoknya semua harus on proper. Hidup sehat, no matter what. Bagus sih… tapi… anaknya jadi kuper karena apa-apa nggak boleh. Sekalinya makan makanan di luaran jadinya malah sakit. Trus kalau anak sakit, emaknya jadi lebih super duper protektif dan menyalahkan diri sendiri atas sakitnya si anak.

Moms, is that really what we wanted to? Menjadi supermom, the best mom, angelic mom.. endebrai endebrai…

Bagi sebagian orang, kasus di atas mungkin terasa menggelikan, nggak masuk akal. Gitu doang kok setres… Mosok iya sih, cuman karena nggak bisa ngomong lembut dan pelan, atau kalau emang beneran gak sempet masak di rumah trus anaknya jajan bakso doang, langsung auto bikin si emak jadi ibuk terjahat gitu? Nggak make sense yah, stressnya receh! Huhh, lebai!

Eits, sabar dulu Moms! Menurut temen saya yang psikolog, nih ya… daya tahan masing-masing terhadap stress ini beda-beda loh. Ada yang kena hantam kanan kiri ampe babak belur masih bisa merenges ketawa-ketawa. Di sisi lain ada orang yang baru kesenggol dikit udah down berat.

Jadi, yang namanya stress itu manusiawi. Nggak ada orang yang stress free di dunia ini. Yang terpenting adalah bagaimana kita mengelola stress itu dengan baik, hingga nggak berpengaruh buruk pada kesehatan mental. Nah saat seseorang nggak bisa ngelola stress itu dengan benar, itu yang akibatnya bisa fatal.

Dalam talkshow saya belum lama kemarin, ada juga salah satu peserta yang datang dengan berbeban berat. Saya bisa langsung menebaknya saat melihat penampakannya dari jauh. Meski si ibuk ini duduk di deretan paling belakang, saya masih bisa melihat betapa dia menahan air mata supaya nggak jatuh di pipinya.

Intinya, si ibuk ini baru resign beberapa bulan terakhir dan memutuskan untuk mengasuh balitanya yang masih usia 2,5 tahun. Ternyata, keinginannya menjadi stay-at-home mom nggak semudah yang dibayangin. Nah, si ibu ini ngerasa stress dengan realita yang menggigit. Ngasuh anak jebule susah, dia ngerasa nggak bisa ngertiin anaknya yang lagi growing up so fast. Dia ngerasa nggak bisa jadi ibu ter-the best, masih banyak nggak ngerti mau gimana saat anaknya tantrum, GTM, dan lain-lain. Dia udah baca banyak panduan parenting di sana-sini, udah ikutan grup WA khusus parenting, dan berusaha melakukan banyak hal untuk jadi ibu terbaik buat anaknya.

Nyatanya? Fakta tak seindah iklan micin di koran. Dan si ibuk ini lebih banyak nangisnya ketimbang hepinya saat di rumah. Dan ketakutan kalau-kalau sikapnya ini berimbas pada tunbuh kembang anaknya. Tuh kan, makin banyak stressornya huhuhu…


Does SUPERMOM really exist?

Gambaran dan idealisme tentang jadi supermom ini emang femes sekali, ya Pemirsah! Apalagi di jaman serba digital ini, di mana semua hal bisa kita akses dengan mudah. Nggak hanya ilmu dan pertemanan semata loh. Eksistensi, penghargaan sekaligus bullying mudah sekali menghampiri. Dan ini juga bisa jadi salah satu stressor paling nyata.

Mampir sini yuk: Anak Bandel, Salah Siapa?

Belom lagi mom-war yang jauh lebih mengerikan ketimbang PD III itu .. Gustiii… bikin mak emak lebih sangar dan kejam ketimbang Kim Jung Il. Padahal kalau kita mau jujur, nggak ada yang namanya SUPERMOM. Kalau ada supermom yang bisa melakukan segalanya, yang nggak pernah berbuat kesalahan, mungkin dia sudah masuk kategori MALAIKAT.

Faktanya, buk ibuk masih manusia biasa yang nggak luput dari kesalahan dan kekurangan. Perempuan memang multitasking tapi bukan berarti bisa melakukan segalanya perfectly.

What Should We Do Then?

Well, masih menurut beberapa temen saya yang psikolog, karena faktanya nggak ada  SUPERMOM, maka kita harus berhenti mengejar kesempurnaan. Kalau mengutip kata-kata Dorce Gamalama, kesempurnaan hanya milik Tuhan, kesalahan dan kekurangan adalah milik kita. Semakin kita mengejar kesempurnaan, semakin tinggi tingkat stress kita dan semakin berat effort yang harus kita lakukan untuk mencapainya.

Lalu bagaimana kalau sampai hal ini terjadi? Nggak hanya kita yang kena dampaknya loh. Orang-orang terdekat juga bisa banget jadi korbannya. Siapa aja? Anak, suami, orangtua.. banyak!

So .. come on Moms, let’s stop chasing perfection! Nikmatin aja ketidaksempurnaan itu dan lakukan apa yang harus kita lakukan untuk “menambal” ketidaksempurnaan itu biar nggak menyakitkan.

How to be a perfect mom
Image Source: unsplash.com/Rowan Chestnut

It’s OKE to be NOT OKE sometimes.

Begitu salah satu life quotes favorit saya. Yes, selama kita masih manusia, ya nggak papa kok sekali-kali menangis. Sekali-kali terjatuh itu manusiawi. Kadang-kadang marah pun wajar. Kita bukan robot yang diprogram untuk  melakukan segalanya plek seperti command yang diberikan.

Nggak papa kalau sesekali ibuk nggak bisa masak. Nggak masalah sesekali emak bangun kesiangan, ngasih anak cilok atau cireng di pinggir jalan, atau ngebolehin anak-anak main gadget demi bisa selonjoran sekejaaap aja. Semua itu nggak otomatis bikin kita jadi makhluk terjahat di dunia. Nggak serta merta bikin anak kita dalam bahaya.

Biar nggak galau: Begini Cara Saya Menjalani Hidup Sebagai Ibu Bahagia

Alih-alih menerapkan
standard tinggi pada diri sendiri, akan jauh lebih baik kalau kita kroscek sama orang-orang terdekat. Apa bener mereka juga pengen kita jadi supermom yang nggak pernah salah? Jangan-jangan kayak anak saya tadi yang justru pengen saya sesekali diem aja, doing nothing, tapi hepi. Daripada saya ngoyo nyelesaiin kerjaan rumah tapi at the end malah jadi uring-uringan.

Alih-alih tertuduh dan ngerasa bersalah gara-gara nggak bisa bawain bekel makan siang yang lucu ala-ala bento itu, pernah nggak kita coba tanya sama anak-anak gimana perasaan mereka kalau bawa bekel seadanya. Atau jangan-jangan mereka justru fine-fine aja tuh sesekali disuruh jajan di sekolah. Hal ini penting supaya kita tetep waras, being happy dan tetep jadi manusia seutuhnya.

Because motherhood is not about being perfect mom. It’s about how to deal with imperfection and be grateful for having wonderful life with your kiddos. 


Happy parenting!



View Post
Menjaga kesehatan gigi pada anak selalu jadi prioritas saya sejak masih punya anak satu. Dari kecil, si kakak nggak pernah punya masalah sama gigi, termasuk karies ataupun gigi berlubang. Waktu masih TK dia bahkan pernah menang lomba gigi sehat antar kelas. Sampai sekarang, nggak pernah ada keluhan sama sekali masalah pergigian ini. Beda banget sama adeknya, Kevin.



Yup, seperti kebanyakan orang tua lainnya, anak kedua dan seterusnya tuh kadang suka bikin kita lebih longgar dalam banyak hal. Dulu pas masi punya anak satu, saya super duper protektif. Palagi si kakak nggak bisa dapet ASI eksklusif. Jadilah saya harus mengatur segala sesuatu terkait makanan, minuman yang dia konsumsi.
Pas Kevin lahir, treatment saya mulai berbeda nih. Yang dulu kakaknya ini itu nggak boleh, saya longgarin. Salah satu alasannya adalah karena menurut saya daya tahan Kevin lebih tinggi ketimbang kakaknya. Dulu kan Rafael sering sakit, bolak balik masuk RS di usianya yang masih balita. Makanya saya protektif banget. Sedangkan Kevin relatif lebih kuat dan jarang sakit. Jadilah dia saya bolehin makan coklat, sedikit permen, dan es krim lebih dini ketimbang kakaknya dulu.

Emang sih dia nggak sering demam, batuk ataupun pilek. Tapiii… masalahnya ada pada giginya yang mulai keropos. Kalau orang Jawa bilangnya gigis atau gupis. Itu loh yang giginya pada abis atau terkikis. Kevin bahkan sudah beberapa kali saya bawa ke dentist buat nambal giginya yang bolong dan berasa sakit sampai nggak mau makan. Huhuhu… kesian banget liatnya. Ya, mo gimana lagi saya emang salah. Sekarang udah kadung sakit gigi, yawes harus banyak berkunjung ke dentist. Untungnya (ih masih ada untung juga ya hehehehe) dia udah nggak asing sama dentist karena saya juga bolak balik ke endodontist untuk merawat akar gigi.

Bicara masalah kesehatan gigi pada anak, saya mau berbagi cerita ni Moms. Jadi beberapa hari yang lalu di sekolah Kevin kedatangan dokter gigi nih dari Cobra Dental.

Dalam rangka merayakan HUT yang ke-40, Cobra Dental mengadakan screening gigi, penyuluhan, dan juga pengaplikasian fluoride pada gigi anak. Acaranya seru banget dan diikuti oleh kurang lebih 80 anak didik.
Sebelum cerita soal kegiatan mereka kemarin, kuy kita kenalan lebih dekat sama Cobra Dental ya.

Jadi Cobra Dental ini awalnya adalah sebuah toko kecil yang menjual beragam alat, bahan dan berbagai barang lain yang berkaitan dengan kedokteran gigi. Sejak 40 tahun yang lalu, Cobra Dental concern dalam menyediakan layanan berkualitas pada pelanggannya. Berawal dari toko kecil tersebut, kini Cobra Dental sudah memiliki cabang di 26 kota dengan total 38 outlet yang melayani lebih dari 26 ribu pelanggan. Dalam website resminya, Cobra Dental juga mengklaim telah mewakili lebih dari 60 perusahaan dental dari 20 negara di dunia. Dengan fokus untuk membawa dunia kedokteran gigi di Indonesia berada dalam level yang sama dengan negara-negara maju lainnya, Cobra Dental juga berkomitmen untuk terus mewujudkan impian tentang dunia kedokteran gigi yang lebih baik di tanah air.

Selain menyediakan beragam kebutuhan terkait kedokteran gigi, Cobra Dental juga rutin melakukan CSR alias Community Social Responsibility yang diwujudkan dalan berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi lingkungannya.

Nah tanggal 28 Januari 2020 kemarin, tim dari Cobra Dental berkunjung ke sekolah Kevin dan mengadakan acara yang seru banget.



Acara tersebut diawali dengan sesi foto yang diikuti oleh murid-murid TK, ibu guru dan perwakilan dari tim Cobra Dental. Setelah itu, anak-anak diajak untuk menuju ke joglo, tempat acara inti dilakukan. Di sana sudah menunggu tim dokter dan petugas lainnya yang siap dengan peralatan lain untuk menjelaskan kesehatan gigi pada anak-anak.

Selepas sambutan dari ibu Tanti selaku kepala sekolah, disusul dengan sambutan dari tim dokter Cobra Dental, acara dilanjutkan dengan penjelasan tentang pentingnya menjaga kesehatan gigi. Ada 3 dokter gigi yang hari itu terlibat, di antaranya adalah drg. Stefanny dan drg. Rifky.



Dokter Rifky menjelaskan bahwa ada 2 jenis gigi yang kita miliki. Yakni gigi susu dan gigi permanen. Gigi susu adalah gigi yang tumbuh di masa awal balita dan akan tanggal di usia 5-6 tahun. Nah setelah gigi susu tanggal, akan digantikan oleh gigi permanen yang biasanya mulai tumbuh di usia 6-12 tahun. Ssst tau nggak Moms, ternyata gigi geligi pada anak itu nggak serta merta muncul gitu aja loh. Tapi pertumbuhan gigi ini sudah diawali sejak janin masih berada di awal trimester pertama kehamilan. Teori ini mungkin bisa menjelaskan ya, kenapa gusi bayi baru lahir udah keras dan terkadang sakit saat menggigit puting kita ketika menyusu. Hehehe.. amazing.

Lebih lanjut, drg. Rifky juga menjelaskan bahwa ada juga 5 jenis gigi yang kita miliki. Yakni

  1. Gigi seri, yang berfungsi untuk memotong makanan. Gigi ini berjumlah 8 buah, yakni 4 di atas dan 4 di bawah. Letaknya ada di paling depan rongga mulut. Gigi ini biasanya tumbuh paling awal dimulai di usia sekitar 6 bulan ke atas.
  2. Gigi taring, berfungsi untuk mengoyak makanan. Gigi ini paling tajam dan biasanya tumbuh sejak usia bayi 16-20 bulan.
  3. Gigi Premolar, ini adalah gigi yang berada di belakang taring dan di depan geraham. Jumlahnya ada 8, yakni 4 di rahang atas dan 4 lagi di rahang bawah. Fungsinya sama dengan gigi geraham yaitu untuk menggiling makanan. Yang unik, gigi premolar ini baru akan tumbuh sekitar usia 10 dan 11 tahun, menggantikan gigi geraham.
  4. Gigi geraham, memiliki fungsi yang sama dengan ggi premolar, yaitu untuk mengunyah/menggiling makanan.  Geraham mulai tumbuh di usia 12-28 bulan dan akan digantikan oleh gigi premolar di usia 10-11 tahun.
  5. Gigi geraham bungsu, adalah gigi yang tumbuh paling akhir, sekitar usia 18-20 tahunan. Tapi, ternyata pada beberapa orang gigi geraham bungsu ini nggak tumbuh loh. Sedangkan pada beberapa orang lainnya tumbuhnya nggak sempurna dan mendesak gigi yang lain sehingga harus dicabut. Nah yang ini kejadian sama saya. Akhirnya ya mau nggak mau harus cabut gigi deh.


Kenapa gigi bisa bolong?

Seiring dengan kemampuan mengunyah anak yang semakin hari semakin baik, maka makin beragamlah jenis makanan yang mereka konsumsi. Ya contohnya kayak saya tadi. Yang awalnya hanya makan sayur dan buah yang dikukus, lama-lama makan biskuit, keripik, kerupuk, bahkan permen dan es krim. Jadilah gigi geligi yang semula mulus dan kuat akhirnya jadi keropos, dan berlubang. Sisa makanan yang menempel di gigi yang nggak dibersihkan dengan cepat, bisa menarik kuman yang akan diubah menjadi asam dan  bisa bikin gigi bolong. Cenut-cenut deh jadinya.

Menurut drg. Rifky, ada beberapa makanan “jahat” yang sebaiknya nggak dikonsumsi terlalu banyak dan sering. Yaitu:
Makanan manis dan lengket, contohnya permen, lollipop, dan es krim.
Makanan ringan, karena terlalu banyak mengandung tepung. Misalnya roti, popcorn, dan keripik kentang yang bisa dengan mudah nyelip di antara gigi dan bisa menarik kuman.
Minuman bersoda. Minuman ini mengandung terlalu banyak pemanis dan mungkin juga zat kimia yang bisa bikin gigi jadi rusak.

Lalu makanan apa yang bermanfaat untuk kesehatan gigi?Ada banyak makanan yang bergizi dan bisa bikin gigi makin sehat loh. Di antaranya adalah:
Buah dan sayur yang renyah seperti apel, wortel, paprika dan lain-lain, sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan gigi karena mengandung banyak vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh. Selain itu jenis makanan ini juga mengandung banyak air sehingga membentu membuat air liur yang berfungsi melindungi gigi agar nggak mudah berlubang.

Dairy product, contohnya susu, yoghurt, dan keju yang memiliki kandungan air lebih banyak serta protein dan kalsium yang berguna banget untuk membuat gigi main kuat.

Fluoride. Beberapa contoh makanan yang mengandung fluoride adalah ayam dan seafood. Air putih juga terkadang mengandung fluoride lho.


Gimana sih cara ngelawan kuman?

Ada beberapa cara melawan kuman dalam mulut dan gigi, antara lain:
1. Rajin menggosok gigi minimal 2 kali sehari. Yakni sebelum tidur dan selepas bangun pagi. Jangan lupa gunakan pasta gigi ya.
2. Mengurangi asupan makanan yang manis dan lengket di gigi. Contohnya permen, es krim, dan krim coklat. Setelah mengonsumsi makanan seperti ini, sebaiknya anak diajak untuk menggosok gigi atau minimal berkumur dengan air bersih dan minum air yang cukup agar sisa gula nggak menempel di gigi.
3. Rutin mengunjungi dokter gigi dan mengecek kondisinya, minimal 6 bulan sekali. Nah ini kadang jadi PR ya Moms. Soalnya nggak semua anak mau dengan sukarela diajak ke dentist. Salah satu triknya kalau saya sih nyari klinik gigi yang ramah anak biar anak nggak takut.

Gimana cara menggosok gigi yang benar?

1. Katupkan rahang atas dan bawah, lalu gosok bagian luar gigi atas dan bawah. Lakukan dengan gerakan memutar atau ke atas dan ke bawah ya bukan ke samping kanan dan kiri. Hal ini justru bisa mengikis email gigi dan membuat gigi berlubang.
2. Gosok bagian samping gigi atas dan bawah.
3. Buka mulut lebar-lebar dan gosoklah permukaan gigi geraham atas dan bawah.
4. Setelah itu, gosok bagian dalam semua gigi atas dan bawah untuk memastikan sisa kotoran nggak menempel lagi.
5. Julurkan lidah dan gosok dengan lembut supaya napas segar dan mulut bebas dari kuman.
6. Kumur-kumur dan pastikan semua sisa pasta gigi sudah bersih.


Serunya games bareng drg. Steffany & drg. Rifky

Setelah penjelasan dari drg. Rifky, anak-anak diajak untuk menonton film tentang kesehatan gigi lewat layar proyektor yang berada di depan. Anak-anak terlihat sangat gembira dan terkadang juga tertawa riang.
Selepas menonton film, drg.Rifky dan drg. Stefanny mengadakan kuis yang bertabur hadiah untuk anak-anak yang berhasil menjawab pertanyaan sederhana dari mereka berdua. Wuah seruu banget jadinya. Anak-anak berebut untuk menjawab.

Hepiiii dapet goodie bag dan snack 😁😁

Acara berlanjut dengan pembagian snack dan goodiebag yang dilakukan oleh tim Cobra Dental yang dibantu oleh ibu guru. Selanjutnya anak-anak diajak kembali ke kelas masing-masing untuk menerima krim fluoride khusus yang berfungsi mencegah kerusakan gigi pada anak. Pengaplikasian krim beraroma melon ini dilakukan oleh tim dokter dibantu oleh tenaga medis lainnya.
Nggak hanya itu loh. Sepuluh anak lainnya diajak ke mobile unit Cobra Dental untuk dilakukan screening gigi. Wah makin seru ya.

Kevin lagi diolesin fluoride giginya

Sekitar pukul 11, keseluruhan rangkaian acara selesai sudah. Terima kasih Cobra Dental!




View Post
Bagi semua ibu hamil dan ibu baru yang punya bebi, udah pasti yang namanya menyusui alias ngasih ASI itu sesuatu yang jadi cita-cita. Nikmat banget deh rasanya bisa nenenin bayi montok nan sehat sambil mengelus puncak kepalanya dan menatap indahnya bulat bola matanya. Apalagi kalau si anak sampai tertidur di dekapan dada ibunya. Uncch, rasanya nggak terlukiskan bahagianya.

Tips lancar menyusui


Teorinya, semua ibu bisa menyusui bayinya. Tapi, in fact, nggak sedikit ibu yang nggak bisa ngasi ASI pada buah hati. Dan ini juga kejadian sama saya. Pas dulu baru punya anak satu, saya nggak bisa meng-ASI-hi Rafael. Udah segala macam cara dicoba, mulai dari makanan, minuman, sampai obat pelancar ASI saya konsumsi, tetep aja payudara segede gaban ini nggak ngocor jugak. Huhuhuh sedih akutu…

Kata dokter, sayanya stress, nggak enjoy dan kurang welcome ama bayi. Makanya segala cara apapun nggak akan ngefek sama produksi ASI, selama saya nggak bisa maintain diri saya sendiri. Dan well… begitulah hidup saya 15 tahun yang lalu. Saya yang masih miskin ilmu parenting, saya yang masih muda kinyis-kinyis, yang belum paham gimana mengasuh bayi, yang masih nyepelein banyak hal dan tiba-tiba terguncang dengan semua perubahan yang ada. Alhasil, saya kena baby blues syndrome dan Rafael hanya ngerasain ASI yang menetes aja selama 3 atau 4 bulan ya. Saya bahkan lupa. Sisanya, dia meneggak ribuan botol sufor yang menjadi teman hidupnya sampai usianya 5 tahun.

Dulu, saya abai aja, nggak ambil pusying masalah ASI dan non-ASI. Buat saya, selama anak saya minum susu ya udah. Toh dia tumbuh besar dan kuat. Hanya saja, di tahun-tahun pertamanya, Rafael memang sering jatuh sakit. Di usia 4 tahun lebih, dia sudah 4 kali bolak balik bobo di RS karena demam tinggi dan diare.

Menurut beberapa sumber bacaan yang saya tahu sih, anak-anak yang tumbuh besar dengan asupan ASI dan sufor emang punya beberapa perbedaan. Terutama masalah daya tahan tubuhnya. Karena itu, saya makin protektif sama Rafael. Nggak boleh makan es krim, nggak boleh ngemut permen, ngak boleh jajan sembarangan, nggak boleh makan snack pake MSG, endebrai endebrai. Tapi akibatnya, pas dia udah mulai ngerti jajan sendiri di sekolah, trus nyolong-nyolong makan makanan pantangannya, hampir bisa dipastiin dia bakalan sakit. Minimal demam atau batuk. Hiks.

Untungnya, beranjak makin besar daya tahan tubuhnya makin bagus. Dan nggak pernah sakit berat lagi mulai masuk usia 8 tahun ke atas.

Tips  lancar menyusui


Dari pengalaman anak pertama itulah, saya keukeuh bilang sama diri sendiri besok kalau punya anak lagi mau kasih ASI Eksklusif sampai puas. Balas dendam gitu ceritanya Moms. Dan puji Tuhan, doa saya dikabulkan. Kevin bisa merasakan ASI saya sampai usia 3 tahun. Bahkan sejak usianya menjelang 2 tahun saya kenalin ke sufor, susu murni dan semua jenis susu lain, Kevin selalu menolak. Mungkin udah keenakan ama rasa ASI jadinya dia emoh susu yang lain. Yawes, saking sayangnya, saya baru menyapihnya di ulang tahunnya yang ketiga. Nah, cerita tentang menyapih dengan cinta si Kevin sendiri saya tulis di postingan lain loh. Kuy, mampir ya.

Nah, kali ini saya mau berbagi sama Mommies sekalian tentang tips menyusui. So buat kalian yang mungkin lagi hamil atau persiapan hamil, dan cemas bisa nggak ya guwe nanti nyusuin bayi? Jangan khawatir. Kita semua bisa menyusui, kok. Intip tips dari saya yuk!

1. Accept your new life 

Sudah jadi kodrat setiap makhluk saat menghadapi perubahan pasti membutuhkan waktu beradaptasi. Begitu juga dengan calon ibu. Rasa deg-degan, cemas dan bahagia bercampur jadi satu ya Moms. Antara nggak sabar pengin nimang anak sama cemas kalau-kalau nggak semua hal berjalan dengan lancar bisa bikin bumil dan busui galau.

So, hal pertama yang harus dipersiapkan adalah mental. Mengkondisikan hati dan jiwa dalam keadaan tenang dan siap menerima segala hal baru nantinya adalah poin penting yang wajib kita lakukan. Sejak hamil dan punya anak nanti, hidup kita nggak akan pernah sama lagi. Dan kita harus siap dengan semua perubahan yang ada.


2. Yakinlah bahwa kita bisa menyusui

Buat saya dan mungkin sebagian besar ibu, menyusui itu bukanlah hal yang mudah. Bukan semacam nyedot es teh di siang hari yang terik atau senikmati nyalon sambil dipijitin mba-mbak yang cantik. Nyusuin itu butuh usaha dan perjuangan yang dibanderol sepaket dengan keikhlasan. Selain itu, menyusui juga butuh tingkat kepedean yang luar biasa.

Salah satu afirmasi positif yang selalu saya katakan pada diri sendiri sewaktu hamil Kevin adalah “Aku pasti bisa. Aku bisa nyusuin. ASIku banyak, ASIku berlimpah. Anakku kenyang sama ASI. Aku nggak butuh sufor.” Dan percaya nggak percaya, kalimat-kalimat itu bener-bener bikin saya PD. Koentji utama bagi busui adalah YAKIN PADA DIRI SENDIRI.



3. Be happy

A happy mother raises happy kids. Ungkapan itu 100% bener menurut saya. Anak itu punya efek cermin yang bisa memantulkan apa yang Mommy rasain. Hal ini juga berlaku selama proses menyusui. Mommy yang bahagia, hormon endorphin-nya melimpah, jiwanya hangat, dan anaknya tenang. That’s one of the most powerful key untuk kita bisa menyusui. Jangan stress, jangan panik, just be happy.


4. Makan dan minum yang cukup dan bergizi

Nah kalau tadi udah bicara masalah psiksis, sekarang masuk ke ranah fisik. Sudah barang tentu untuk produksi ASI yang melimpah, busui butuh asupan makanan dan minuman bergizi seimbang. Jauhi deh yang namanya alcohol dan soda. Lebih baik konsumsi lebih banyak sayur dan buah, ikan, telor, dan aneka sumber nutrisi sehat lainnya.

Selama menyusui Kevin, saya bisa makan 4-5 kali sehari loh hihihi. Rasanya gampang banget laper dan butuh suntikan makanan. Woles aja Moms, nggak usah mikirin berat badan. Percaya nggak selama nyusuin, BB saya malah turun tuh. Jadi bye-bye deh program diyet! Saya malah makan kenyang, minum enak tanpa takut gendut. :D


5. Cukupkan istirahatmu

Meski punya bebi itu warbyasaak capeknya, tapi jangan lupa buat sediain waktu istirahat yang cukup ya Moms. Mungkin di 3 bulan pertama hidup kita akan jungkir balik, tapi usahakan untuk tetap bisa tidur pulas di sela-sela waktu yang hectic itu. Sebisa mungkin, tidurlah selagi si bebi tidur. Nikmat banget deh rasanya.


6. No smoking

Buat mereka yang nggak hamil dan nyusuin aja rokok tuh udah jahat banget. Palagi buat buk ibuk yang lagi nyusuin bayi. Udah deh, say no aja buat rokok dan teman-temannya.


7. Perhatikan konsumsi obat

Salah satu hal yang agak sulit buat bumil dan busui adalah saat sakit tu nggak bisa minum sembarang obat. Soalnya biasa pengaruh ke janin dan bayi. So, menjaga kesehatan itu emang kudu wajib. Tapi kalau emang jatahnya sakit ya gimana lagi. Selalu konsultasikan diri ke dokter sebelum minum obat apapun ya Moms. Apalagi kalau kita punya riwayat sakit tertentu dan harus konsumsi obat “keras”


8. Cari posisi menyusui yang ternyaman

Posisi menentukan prestasi itu jargon yang selalu tepat loh hahaha. Nggak cuma berlaku pas ujian doang. Tapi, posisi nyusuin yang uwenak juga bisa bikin Mommy dan bebi keenakan loh. Sampai-sampai feeling happy dan akhirnya ASI mengucur deras. Tapi juga jangan sembarangan ya Moms. Kenyamanan dan keamanan bayi tetap nomor satu.

Untuk new born baby sih saya tetap rekomenin untuk menyusui sambil duduk. Karena bayi kecil masih sangat berisiko untuk tersedak atau tertutup hidungnya saat menyusu. Na kalau udah mulai usia 3 bulan ke atas, saya dulu suka banget nenenin sambil rebahan. Si adek berbaring di samping trus kita berdua molor sama-sama. Makin gede, makin pinter berakrobat. Neneng sambil nungging atau tengkurep di atas perut saya uda biasa. Wkwkwk.. enjoy aja!


9. Rajin-rajin kasih payudara ke bayi

Kadang-kadang ada bayi yang males nyusu. Nah, jangan dibiarin ya Moms. Sebaiknya kitanya yang rajin ngasih puting sama si adek. Maksimal 1 atau 2 jam harus nenen. Hukum supply and demand berlaku untuk ASI ini. Semakin banyak dikeluarin, semakin banyak juga ASI yang diproduksi. So, jangan takut keabisan ASI selama makan minum dan stok happiness kita tercukupi ya.


10. Dapatkan support system yang terbaik

At the end, menyusui nggak hanya berlaku bagi ibu dan bayi aja. Tapi melibatkan banyak pihak supaya proses meng-ASI-hi ini berjalan dengan lancar. Trus siapa aja yang harus terlibat?

Tenaga medis. Jaman now udah banyak RS dan klinik ibu dan anak yang pro ASI. Jadi, nggak perlu khawatir nggak ada dukungan ya Moms. Beda sama jaman 20 tahunan yang lalu. Jaman Rafael lahir dulu, malah dilelepin botol bersufor bahkan di usianya yang baru 2 hari. Jaman now, kebanyakan RS akan ngasih bayi untuk rawat bareng dalam satu kamar dengan ibu. Jadi ibu bisa ngasih ASI kapanpun bayi mau.
Suami/ayah. Inget ya Moms, anak itu hasil kerja bareng suami istri. Yekaan? Jadi peran ayah sangat diperlukan untuk mendukung kebahagiaan dan kewarasaan istri dan anak. Kita bisa minta tolong suami untuk membantu mengangkatkan bayi saat malam hari, atau mengganti popoknya saat kita lelah. Ya, sesimple itu doang udah means a lot!
Kakak (jika ada). Supaya si kakak nggak cemburu, dia bisa dilibatkan juga loh. Sekedar duduk di samping kita udah bikin hatinya happy karena nggak ngerasa dinomorduakan.
Nenek/kakek. Peran nenek dan kakek meski nggak terlalu besar, tapi penting juga loh. Apalagi mereka ngga “nyinyir” pas liat kondisi kita. Misalkan pas ASI belum banyak, pas mata panda kita nggak ilang-ilang, ortu yang pengertian akan bikin Mommies merasa tenang.
Kerabat dan teman-teman

Yang ini mungkin Anda perlu : Tips Menyapih dengan Cinta

Tips  lancar menyusui

I really hope that Mommies beneran bisa menyusui dengan lancar dan happy kayak saya sama Kevin dulu. Tapi kalaupun setelah melakukan semua cara dan tips di atas, kok ndilalah masih belum lancar juga neneninnya, tetaplah bahagia.

Memberi ASI adalah tugas dan keistimewaan luar biasa bagi para ibu. Tapiii… nggak bisa memberi ASI pun nggak serta merta membuat Mommies jadi ibu terjahat dan terkutuk. I’ve been there before. Saya pernah jadi ibu “nggak becus menyusui” sekaligus ibu yang “pintar menyusui”. Jadi saya tau banget apa yang buk ibuk rasain 😊

Tuhan sangat sayang dan memuliakan para ibu, terlepas apapun kondisi mereka. Yang penting kasih sayang kita sama besar untuk anak, keihklasan kita sama  besar untuk merawat dan mendidik mereka. Itu yang terutama.

So, happy breastfeeding and enjoy your motherhood!



View Post
“Tau nggak Mi, ada loh temenku yang sampe pengen bunuh diri,” kata si Mbarep kapan hari.

Kalimat pendek yang spontan terucap tadi bikin saya terkaget-kaget. Yang bener aja sih, batin saya. Kok bisa segitunya anak SMP punya pemikiran yang mengerikan.

Puisi anakmu khalil gibran


Anak-anak saya emang terbiasa bercerita apa aja sama saya. Baik itu hal-hal yang mereka inginkan, barang-barang yang mereka pengen, atau sekedar berdebat tentang sesuatu hal sepele selalu bikin waktu-waktu kami rame banget. Jarang lah kami ini diem-dieman kalo pas lagi ngumpul. Hal ini emang udah saya biasain dari mereka kecil. Meski anak-anak di rumah cowok semua, bukan berarti mereka nggak doyan ngobrol loh. Sering kali saya malah kewalahan ngeladenin ocehan mereka. Kalau kalian mau tau gimana serunya hari-hari saya sama anak-anak cowok itu, kuy mampir ke sini ya. Saya udah tulis poin pentingnya.

Namun dari ratusan perbincangan yang pernah kami alami, obrolan sore itu sungguh bikin saya shocked. Gimana enggak, saya beneran nggak nyangka kalau ada temen anak saya yang punya pemikiran segila itu. Langsung dong saya menginterogasi si Kakak. Tentu saja tanpa nada marah atau menyelidik yang berlebihan lah yaw. Salah-salah si kakak malah nutup mulut deh.

So, dari hasil percakapan sore itu, saya dapet info kalau si X ini (cewek, kelas XI) tertekan banget sama perilaku ortunya yang menurutnya terlalu menuntut. Jadi nih, si anak ini suka dan punya hobi seni. Tapi sama ortunya, dituntut untuk jadi insinyur. Dan setiap pulang sekolah, dia udah ditungguin sama serentetan les ini itu yang intinya bikin dia nggak punya waktu untuk bersantai sejenak. Bahkan untuk sekedar nonton tivi atau ngeyutub aja nggak bisa. Terkadang, masih menurut si X ini, dia bengong pun diomelin sama orangtuanya. Pokoknya serba salah di mata ortunya.

Kebetulan, saya pernah beberapa kali ngobrol sama mamah si X ini. Jadi, dulu pas SD anak ini bersekolah di sekolah alam, sebuah sekolah inklusi yang cukup terkenal di kota kami. Nah, pas SMP ortunya pengin mengenalkan dia sama sekolah umum. Dan saya baru tau (berdasarkan cerita anak saya tadi) ternyata orangtuanya itu udah punya rencana besar supaya si X ini kelak bersekolah dan kuliah di jurusan eksak. Sesuatu yang jelas-jelas menyiksa buat si anak.

Saya sih nggak mau menghakimi dan mengambil kesimpulan apa-apa karena menurut saya masih terlalu dini. Apalagi saya nggak ngerti secara detail bagaimana keseharian si X dan keluarganya. Tapi, kalau sampai dia berani cerita ke temen-temennya soal keinginanannya untuk bunuh diri, saya pikir sudah bukan sesuatu yang wajar. Pasti ada hal yang memang begitu menekannya sampai-sampai dia kepikiran hal seperti itu.

Second thing, saya juga baru tahu si X ini udah kenal vape. Dan beberapa kali cerita dia diomelin mamahnya. Bayangin, anak cewek, usia kelas 3 SMP, udah kenal vape dan udah beberapa kali ketangkep basah ama guru BK. Tapi dia nggak kapok juga, wong bilangnya si ortunya juga ngerokok semua. Haduuh, pengen marah nggak sih Moms?

Well, saya ini bukan orang yang kolot dan menentang modernitas. Harus saya akui, jaman now ginih udah jamak cewek ngerokok. Saya bahkan punya beberapa temen cewek yang perokok juga. Tapi, plis deh, ini mereka ngomelin anak gadisnya gara-gara ngerokok, tapi sendirinya juga merokok. What the f***! Yekaaan?

Puisi anakmu khalil gibran

Hubungan Orangtua dan Anak

Meski jaman udah semakin maju dan nilai-nilai lama mulai banyak berganti dengan hal-hal yang lebih kekinian, nyatanya dalam hal pola pengasuhan anak, masih banyak orang tua yang tanpa sadar mengadopsi pola didik jaman baheula. Contoh nyata dalam kasus ini ya cerita saya di atas. Coba saja kita lihat di sekitar. Ada berapa banyak orang tua yang ngerasa bahwa anak itu milik mereka? Orang tua lupa bahwa sejatinya anak hanyalah titipan semesta yang punya kehendak dan kebebasan dalam menentukan masa depannya.

Saya langsung ngerasa gimana ya kalau saya ada di posisi si X tadi. Kemungkinan besar, saya pasti akan ngerasain hal yang sama. Saya pasti marah dan kesal sama keadaan, mungkin juga saya akan menyalahkan orang tua dan bahkan membenci mereka karena nggak mau ngertiin saya. Bukan nggak mungkin, saya akan jadi anak yang menyebalkan, trouble maker dan bikin orang tua saya kesel. Atau, bisa jadi saya justru akan menutup diri, jadi introver, dan depresi. Ah, merinding saya ngebayanginnya.

Related post : Bikin Anak Well Behave? Ada Caranya Loh


What Should We Do as Parents

Saya percaya, setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik buat anak-anaknya. Hanya saja, nggak semua orang tua tau pasti bagaimana melakukannya dengan baik. Masih ada banyak orang tua yang tanpa sadar memperlakukan anak sebagai dirinya sendiri sehingga mengejar sesuatu yang sebenarnya adalah keinginan orang tua, tapi mengatasnamakan anak-anaknya. Sebagai contoh, mungkin ada orang tua yang dulunya pengen jadi penari balet tapi nggak kesampaian. Nah giliran punya anak, eh si anak yang disekolahin balet dan diarahin jadi penari balet profesional. Padahal, belum tentu si anak punya passion yang sama dengan orangtuanya. Kalau kebetulan anaknya sukak dan emang bakat sih nggak masalah. Lah kalau kejadiannya sama seperti temen si kakak tadi, gimana?  Ngeri kan?

Bisa saja sih anak itu ngikutin maunya ortu. Tapi siapa yang bisa jamin jauh di lubuk hatinya dia tertekan? Siapa yang bisa jamin dia nggak akan menyesal di kemudian hari dan merasa nggak happy?

Well, menurut saya yang masih cetek jadi orangtua ini, memperlakukan anak layaknya boneka bukanlah hal yang  patut. Anak adalah pribadi yang merdeka. Terlepas dari seberapa besar “hak istimewa” kita sebagai orang yang melahirkan dan membesarkan mereka, anak-anak tetap punya hak untuk menentukan masa depannya juga. Kita nggak boleh menjadikan obsesi kita sebagai obsesi anak. Bukankah kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan kita juga?

Intip yang ini juga yuk : Serunya Punya Anak Laki-laki

Tulisan ini murni hasil pemikiran saya sebagai orangtua dari anak remaja yang beranjak dewasa dengan segala kemampuan berpikirnya yang semakin kompleks. Saya sungguh ingin anak-anak saya nantinya bahagia dengan pilihan mereka di masa depan. Saya nggak pengen mereka menyesal dan membenci saya karena memaksakan pilihan dan menyuruhnya melakukan ini itu yang belum tentu mereka sukai. Memang benar, saya dan suami selalu dan akan senantiasa menunjukkan hal-hal yang menurut kami baik. Tapi, kami berusaha juga untuk ngertiin mereka dan membiarkan mereka menentukan jalannya sendiri. Selama apa yang mereka inginkan positif, kami akan memberikan doa restu. Sebaliknya, ketika mereka menghadapi kesulitan, sudah semestinya kami mendampingi dan memberikan bantuan.

Saya percaya, Mommies dan Daddies ingin yang terbaik juga untuk buah hatinya. Karena itu, mari kita lakukan yang semestinya kita lakukan  dalam mengasuh anak-anak titipan semesta.

Puisi anakmu khalil gibran


Sebagai penutup berikut saya tuliskan puisi Khalil Gibran. Semoga menginspirasi.

Anakmu Bukanlah Milikmu
-Khalil Gibran-


Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra-putri sang hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.


Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.


Berikanlah mereka kasih sayangmu, namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri.


Patut kau berikan rumah bagi raganya, namun tidak bagi jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi, sekalipun dalam mimpimu.


Engkau boleh berusaha menyerupai mereka, namun jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur, ataupun tenggelam ke masa lampau.


Engkaulah busur asal anakmu, anak panah hidup, melesat pergi.
Sang Pemanah membidik sasaran keabadian, dia merentangkanmu dengan kuasa-Nya,
hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.


Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana dikasihi-Nya pula busur yang mantap.



Happy Parenting!

View Post
"Eh, jangaan!!"

Sebuah lengkingan keras membuat si kecil kaget dan akhirnya menangis kencang. Sang ibu yang nggak kalah kaget terlihat panik dan berusaha merebut benda tajam yang terlanjur berada di genggaman anaknya. Drama pun berlanjut dengan teriakan keras, tangisan melolong dan tantrum si kecil.



Hei... pernah nggak sih Mommies ngalamin drama di atas? Well, kalau mau jujur pasti banyak sih orangtua yang pernah ngalamin kejadian kayak gitu.

Benda tajam dan berbahaya memang nggak seharusnya menjadi mainan anak-anak, terutama balita.  Karena itu, orangtua harus memastikan benda-benda itu berada di tempat yang aman dan jauh dari jangkauan anak-anak.

Tapi, seiring dengan usia dan kematangan anak, benda-benda tajam ini juga harus dikenalkan loh. Yaaa, mulai usia 3 tahunan, Mommies boleh mengeluarkan koleksi "senjata" ini dan mendampingi anak untuk mengenal gimana sih cara makeknya. Di usia ini, otot-otot tangannya sudah cukup kuat dan mampu memegang serta menggunakan gunting. Lagipula, nanti saat mereka udah sekolah, ia sudah terbiasa menggunakannya. Soalnya nanti kalau di TK, mereka akan mulai mengerjakan banyak prakarya yang membutuhkan acara gunting menggunting.

Tentu saja, Mommies harus mengenalkan gunting dan atau benda tajam lainnya secara bertahap dan berulang ya. Jangan terburu-buru, dan pastinya harus dilakukan dalam kondisi anak lagi fresh. Satu lagi, sesuaikan dengan kematangan masing-masing anak ya. Tiap anak memiliki tahap perkembangannya sendiri. Jadi nggak bisa disamain. Misalnya si A usia 3 tahun udah dikenalin sama gunting. Kok si B udah 4 tahun belum bisa pegang gunting sih?

Idealnya sih, di usia 5 tahunan, anak sudah bisa menggunting dan memotong kertas dengan baik, meski mungkin belum rapi. No worries, ya Moms. Semakin dewasa, anak akan menemukan.



Sst, tahu nggak Moms, ternyata aktivitas menggunting nggak hanya bermanfaat untuk memotong kertas dan bahan lainnya loh. Buat para balita unyu-unyu ituuh, menggunting juga sangat mendukung proses tumbuh kembangnya. Apa saja ya kira-kira?

  • Melatih motorik dan sensorik anak

Saat memegang gunting, otot-otot anak akan terlatih dan hal ini tentu saja mendukung perkembangan motoriknya. Selain itu, anak juga akan belajar menyentuh, mengenal dan menggunakannya.

  • Menumbuhkan kepercayaan diri

Meskipun di awal-awal hasil guntingannya masih akan berantakan, hal ini tetap saja akan meningkatkan kepercayaan diri anak saat berhasil memotong atau menggunting sesuatu.

  • Belajar mengontrol kekuatan
Aktivitas menggunting, membuat anak belajar bagaimana mengontrol kekuatan dan menggunakan gunting untuk memotong atau membentuk pola.

  • Mengenal berbagai macam bentuk dan warna
Saat berlatih memotong dan menggunting kertas warna, secara nggak langsung anak belajar juga mengenal warna dan beragam bentuk yang berbeda. Misalnya kita bisa mengajarkan anak untuk membentuk segitiga berwarna merah, segi empat berwarna kuning dan lain sebagainya.

  • Berlatih kesabaran

Sebenernya, semua aktivitas belajar anak bisa melatih kesabaran, termasuk menggnting. Mereka akan belajar untuk fokus, berhati-hati dan sabar sampai bentuk yang diinginkan berhasil digunting.

Nah, ternyata nggak melulu harus parno bin panik ya Moms saat si kecil berhadapan dengan benda tajam? Yang pasti kita harus mempersiapkan mereka untuk mengenal, menggunakan dan merasakan manfaatnya dengan benar. Jangan lupa, dampingi anak saat beraktivitas menggunakan gunting ini. Seiring dengan makin bertambahnya usia, sekitar 9-10 tahun, mereka akan cukup matang dan siap untuk menggunakannya sendiri. So, get ready for their new experience.

Happy parenting!

View Post
Masa liburan sekolah terkadang bikin Mommies jadi puyeng. Bukan karena kelamaan plesiran, tapi karena pusying mau masak apa lagi buat nak kanak yang hobinya makan terus tiap kali nganggur. Biasanya kalau mereka sekolah, minimal 6 jam kan nggak ngariung dan kruntelan di depan tivi. Jadi hasrat ngunyah-ngunyah pun rada berkurang. Nah, masalah mulai datang pas nggak ada kerjaan. Perut bawaannya jadi laper muluk. Apalagi saya yang punya dua jagoan. Eh, bener apa bener ya?

Jadilah, kemarin selama liburan itu kerjaan terbanyak saya bukan di depan laptop duduk manis sambil nyemil keripik. Tapi bulak balik dari dapur ke depan tivi, lanjut ke area mesin cuci dan meja setrikaan. Hihihi... nasib nggak punya ART ya gini ini. Semua serba sendiri. Tapi nggak boleh ngeluh kan ya? Selama masih kepegang, ya saya mah berusaha tetep on fire ngerjain kerjaan domestik. *Halah (((on fire)))*

Anak-anak memang perlu energi yang cukup untuk beraktivitas ya Moms. Nggak cuma cukup makan 3 kali sehari loh, mereka juga perlu makan makanan lain di sela-sela jam makannya. Emang kenapa?

  1. Lambung anak-anak masih kecil, jadi daya tampungnya belum sebanyak orang dewasa. Karena itu, makan dalam porsi kecil tapi sering, akan sangat membantu mereka memiliki stok energi sepanjang hari. 
  2. Pemberian  kudapan di sela jam makan membuat anak nggak kelaparan saat jam makan utama tiba. Hal ini katanya sih bermanfaat untuk mencegah mereka makan berlebihan alias emotionally eating. Kudapan yang tepat juga membuat anak nggak mudah bosen sama makanan yang itu-itu aja.
  3. Kita bisa menjadikan kudapan untuk menawarkan jenis makanan baru buat anak. Kan banyak tuh anak-anak yang maunya cuma makan ituuuu terus ampe Mommy-nya bosen. Nah, cobain deh siasatin dengan menyediakan kudapan yang beragam setiap hari. 


Dan kali ini saya mau sharing sedikit tentang resep kudapan praktis murah meriah dan pastinya enak. Resep ini sebenernya cuma saya modifikasi dari resep serupa yang pernah saya liat di sebuah grup memasak online di FB. Dulu saya pernah bikin kudapan ini sekali doang, dan anak-anak demen. Cuma, abis itu nggak sempet lagi bebikinan. Kira-kira apa ya kudapan yang saya bikin? Kuy, ikutin sampe selesai ya 😉

Baca juga yang ini : Makanan Ini Yeay or Nay?

Resep Bolu Kukus Nutrisari

Bolu Kukus Nutrisari

Yup! Mungkin Mommies udah banyak yang bisa bikin kudapan yang satu ini. Tapi nggak papa deh, saya masih semangat kok berbagi resepnya hahaha. Siap?

Bahan yang diperlukan


  • 1 gelas belimbing tepung terigu serbaguna
  • 2 sdm tepung maizena
  • 3 sdm gula pasir
  • 1 bungkus nutrisari rasa mangga atau jeruk 
  • sejumput garam
  • 1 butir telur ayam
  • 1/4 sdt baking powder
  • 100 ml susu UHT plain atau santan 
  • 60 ml minyak sayur 
Untuk bahan-bahan ini saya sering kali nggak pakai takaran yang pasti. Kebanyakan hanya mainkira-kira saja. Seperti minyak sayur dan santan/susu UHT. Pokoknya dikira-kira saja kondisi adonannya nggak boleh terlalu lembek (cair) ya. Karena nanti justru bisa bantat. 


Cara Membuat Bolu Kukus Nutrisari
  • panaskan dandang dengan api besar, alasi tutupnya dengan serbet agar uap panas nggak menetes di atas kue
  • campur dan aduk semua bahan kering dalam sebuah mangkuk besar
  • tambahkan telur ayam yang sudah dikocok lepas
  • masukkan santan/susu UHT dan minyak sayur, aduk kembali
  • tuangkan ke dalam loyang yang sudah dilumuri mentega dan ditaburi sedikit tepung 
  • kukus sekitar 15 menit 
  • angkat, letakkan di atas piring saji, olesi mentega lalu taburi meses atau keju sesuai selera
  • makan hangat-hangat sebagai teman ngeteh atau ngopi
Nah, gimana? Praktis kan, Moms? Yuk, dicoba di rumah buat nemenin anak-anak main di sore hari juga OK loh.


 Selamat berkreasi ya





View Post