Post Page Advertisement [Top]



"Kak, nanti siang beli makan di sekolah aja dulu nggak papa?” tanya saya sama si Sulung yang segera dijawab dengan anggukan. Rafael lagi sibuk mempersiapkan keperluan sekolah sambil berganti baju setelah mandi. Sementara si Papi lagi beberes di bawah dan nyiapin mobil.

“Adek nanti maemnya pakai telor dadar dulu ya, di sekolah.” Saya memasangkan baju seragam Kevin sambil yang masih setengah mengantuk.

“Memangnya Mami nggak bikin sayur?” Saya menggeleng. Pagi itu saya memang bangun kesiangan. Biasanya sekitaran subuh saya udah sibuk nguplek dapur nyiapin sarapan. Gara-gara semalem ngabisin episode trakhir Drakor yang lagi seru-serunya, jadi deh jam 5 lebih baru melek dan cuman sempet masak nasi doang. Itupun pakek rice cooker yang tinggal colok.

“Nanti sore Mami baru masakin cah brokoli ya, sama ayam krispi. Oke? Sekarang kita berangkat dulu, nanti kesiangan,” bujuk saya pada si bontot yang rada manyun. Dia memang terbiasa makan pake sayur apapun. Jarang-jarang dia makan keringan gitu.

Tapi ya mau gimana lagi, dalam kondisi emergency seperti sekarang ini, saya lebih milih memberi mereka makanan “instant” ketimbang telat masuk sekolah hanya karena saya maksain masak lauk pauk lengkap seperti biasanya.

Mbok wes to Mami tu makannya jangan kecapekan. Kalo Mami maksain ngerjain semuanya sendirian tuh nggak bagus juga to buat Mami sendiri. Aku aja yang ngeliatin capek kok. Apalagi Mami.. “ Rafael tetiba nyerocos panjang sambil ngunyah sarapannya yang hanya nasi putih, telor ceplok dan kecap manis. Jalanan pagi itu agak macet, mungkin karena efek abis liburan panjang dan itu adalah hari pertama masuk sekolah. Jadi yaaa… kebayang kan dramanya kek gimana.

“Abisnya Mami tuh nggak bisa je, ngeliat rumah tuh berantakan. Pengennya semua beres, bersih, baru ngaso gitu…” balas saya.

“Iya Mi, jangan sampe sakit loh. Pulang liburan malah sakit kan kasian Mami. Kalok Mami sakit tuh, repot.” Suami saya ikutan nimbrung sambil melirik dari spion tengah. Saya meringis antara masih ngantuk, capek, dan agak kesel.

Bacaan terkait: Hamil itu Nggak Mudah! Pikir Baik-baik Sebelum Hamil Ya

Well, jadi buk ibuk itu emang nggak gampang ya Temans. Maunya sih ya kayak yang Rafael bilang itu: santai sejenak, nikmatin waktu dan leyeh-leyeh. Sebentar saja. Hanya sekejap.

Tapi… apakah itu mudah, Fergusso?
NOPE!

Berapa banyak coba, perempuan yang bisa bener-bener nikmatin waktu sendiri tanpa memikirkan hal lain? Saya aja kalau pengen me time di rumah harus tunggu anak tidur dulu. That’s why saya rela ngabisin malam buat nonton Drakor.

Buk ibuk udah sangat identik dengan kata ribet dan belibet. Opo-opo digawe susah, makane gampang muring-muring. Duhhh… bener begitukah?

Dari beberapa referensi yang saya baca, perempuan itu memang makhluk yang unik. Secara genetik, otak perempuan itu akan berpikir dengan pola yang sedemikian rupa sehingga bisa bekerja pada dua sisi otak. Itulah yang jadi alesan kenapa kita-kita ini multitasking.

Nah bicara soal multitasking ini, ternyata nggak semuanya berdampak positif loh Moms. Tau kenapa? Karena dengan kemampuan multitasking ini, perempuan jadi lebih sensitif dan cenderung punya high expectation untuk dirinya sendiri. Pada tahap tertentu, hal ini nggak akan jadi masalah serius. Hingga pada level tertentu bisa jadi bumerang buat diri sendiri.

Ada banyak perempuan (baca: ibu) yang punya standar tinggi dalam hidup sehari-hari, akhirnya harus bergulat dengan pencapaian. Dalam hal ini, saat kita nggak bisa Menuhin target pribadi, akhirnya uring-uringan dan stress melanda. Hiks… itu cuma saya aja atau emang hampir semua perempuan kayak gitu ya?

Eh, ngomong-ngomong soal target tuh nggak hanya berarti yang muluk-muluk loh. Sekedar “jam berapa harus selesai nyetrika” atau “kapan anak harus bisa makan sendiri tanpa disuapin” bisa juga jadi target yang luar biasa menyiksa buat beberapa orang. Belum lagi target seperti “Aku nggak boleh marahin anak, aku harus jadi ortu yang lembut” juga ternyata jadi tolok ukur pribadi yang nggak jarang justru menjadi sumber stress yang berbahaya.

Image Source:. Unsplash.com/Kinga Cichewics

Dalam beberapa parents gathering dan diskusi dengan temen-temen profesional, saya menemukan ada banyak kasus (((kasus))) di mana ibu-ibu tuh suka jadi merasa tertuduh dan bersalah saat target-target pribadi itu nggak tercapai. Mungkin buat orang lain, hal seperti ini tampak sepele.

Contohnya ada loh mak emak yang stress berat dan ngerasa gagal jadi ibu yang baik, hanya karena nggak bisa niruin cara bicara seorang psikolog anak idolanya. Jadi si ibu ini menetapkan dalam pikirannya bahwa ibu yang baik itu nggak boleh teriak, nggak boleh marah, nggak boleh mengatakan kata-kata tertentu pada anak. Padahal, sesekali teriak kan nggak dosa, to? Asal, memang kondisinya darurat.

Nah, si ibu ini berusaha menerapkan tips-tips parenting dari psikolog idolanya ini plek ketiplek dengan harapan menjadi the best mom ever! So, saat dia nggak bisa memenuhi salah satu variabel yang dia ciptakan sendiri, hidupnya berakhir dengan self guilty feeling dan selalu ngerasa gagal jadi ibu. Ujungnya? Suaminya harus bawa dia bolak balik ke psikolog untuk memulihkan jiwanya.

Ada lagi buk ibuk yang selalu maunya masak sendiri, anak-anaknya nggak boleh makan di luaran, nggak boleh main kotor-kotoran, pokoknya semua harus on proper. Hidup sehat, no matter what. Bagus sih… tapi… anaknya jadi kuper karena apa-apa nggak boleh. Sekalinya makan makanan di luaran jadinya malah sakit. Trus kalau anak sakit, emaknya jadi lebih super duper protektif dan menyalahkan diri sendiri atas sakitnya si anak.

Moms, is that really what we wanted to? Menjadi supermom, the best mom, angelic mom.. endebrai endebrai…

Bagi sebagian orang, kasus di atas mungkin terasa menggelikan, nggak masuk akal. Gitu doang kok setres… Mosok iya sih, cuman karena nggak bisa ngomong lembut dan pelan, atau kalau emang beneran gak sempet masak di rumah trus anaknya jajan bakso doang, langsung auto bikin si emak jadi ibuk terjahat gitu? Nggak make sense yah, stressnya receh! Huhh, lebai!

Eits, sabar dulu Moms! Menurut temen saya yang psikolog, nih ya… daya tahan masing-masing terhadap stress ini beda-beda loh. Ada yang kena hantam kanan kiri ampe babak belur masih bisa merenges ketawa-ketawa. Di sisi lain ada orang yang baru kesenggol dikit udah down berat.

Jadi, yang namanya stress itu manusiawi. Nggak ada orang yang stress free di dunia ini. Yang terpenting adalah bagaimana kita mengelola stress itu dengan baik, hingga nggak berpengaruh buruk pada kesehatan mental. Nah saat seseorang nggak bisa ngelola stress itu dengan benar, itu yang akibatnya bisa fatal.

Dalam talkshow saya belum lama kemarin, ada juga salah satu peserta yang datang dengan berbeban berat. Saya bisa langsung menebaknya saat melihat penampakannya dari jauh. Meski si ibuk ini duduk di deretan paling belakang, saya masih bisa melihat betapa dia menahan air mata supaya nggak jatuh di pipinya.

Intinya, si ibuk ini baru resign beberapa bulan terakhir dan memutuskan untuk mengasuh balitanya yang masih usia 2,5 tahun. Ternyata, keinginannya menjadi stay-at-home mom nggak semudah yang dibayangin. Nah, si ibu ini ngerasa stress dengan realita yang menggigit. Ngasuh anak jebule susah, dia ngerasa nggak bisa ngertiin anaknya yang lagi growing up so fast. Dia ngerasa nggak bisa jadi ibu ter-the best, masih banyak nggak ngerti mau gimana saat anaknya tantrum, GTM, dan lain-lain. Dia udah baca banyak panduan parenting di sana-sini, udah ikutan grup WA khusus parenting, dan berusaha melakukan banyak hal untuk jadi ibu terbaik buat anaknya.

Nyatanya? Fakta tak seindah iklan micin di koran. Dan si ibuk ini lebih banyak nangisnya ketimbang hepinya saat di rumah. Dan ketakutan kalau-kalau sikapnya ini berimbas pada tunbuh kembang anaknya. Tuh kan, makin banyak stressornya huhuhu…


Does SUPERMOM really exist?

Gambaran dan idealisme tentang jadi supermom ini emang femes sekali, ya Pemirsah! Apalagi di jaman serba digital ini, di mana semua hal bisa kita akses dengan mudah. Nggak hanya ilmu dan pertemanan semata loh. Eksistensi, penghargaan sekaligus bullying mudah sekali menghampiri. Dan ini juga bisa jadi salah satu stressor paling nyata.

Mampir sini yuk: Anak Bandel, Salah Siapa?

Belom lagi mom-war yang jauh lebih mengerikan ketimbang PD III itu .. Gustiii… bikin mak emak lebih sangar dan kejam ketimbang Kim Jung Il. Padahal kalau kita mau jujur, nggak ada yang namanya SUPERMOM. Kalau ada supermom yang bisa melakukan segalanya, yang nggak pernah berbuat kesalahan, mungkin dia sudah masuk kategori MALAIKAT.

Faktanya, buk ibuk masih manusia biasa yang nggak luput dari kesalahan dan kekurangan. Perempuan memang multitasking tapi bukan berarti bisa melakukan segalanya perfectly.

What Should We Do Then?

Well, masih menurut beberapa temen saya yang psikolog, karena faktanya nggak ada  SUPERMOM, maka kita harus berhenti mengejar kesempurnaan. Kalau mengutip kata-kata Dorce Gamalama, kesempurnaan hanya milik Tuhan, kesalahan dan kekurangan adalah milik kita. Semakin kita mengejar kesempurnaan, semakin tinggi tingkat stress kita dan semakin berat effort yang harus kita lakukan untuk mencapainya.

Lalu bagaimana kalau sampai hal ini terjadi? Nggak hanya kita yang kena dampaknya loh. Orang-orang terdekat juga bisa banget jadi korbannya. Siapa aja? Anak, suami, orangtua.. banyak!

So .. come on Moms, let’s stop chasing perfection! Nikmatin aja ketidaksempurnaan itu dan lakukan apa yang harus kita lakukan untuk “menambal” ketidaksempurnaan itu biar nggak menyakitkan.

How to be a perfect mom
Image Source: unsplash.com/Rowan Chestnut

It’s OKE to be NOT OKE sometimes.

Begitu salah satu life quotes favorit saya. Yes, selama kita masih manusia, ya nggak papa kok sekali-kali menangis. Sekali-kali terjatuh itu manusiawi. Kadang-kadang marah pun wajar. Kita bukan robot yang diprogram untuk  melakukan segalanya plek seperti command yang diberikan.

Nggak papa kalau sesekali ibuk nggak bisa masak. Nggak masalah sesekali emak bangun kesiangan, ngasih anak cilok atau cireng di pinggir jalan, atau ngebolehin anak-anak main gadget demi bisa selonjoran sekejaaap aja. Semua itu nggak otomatis bikin kita jadi makhluk terjahat di dunia. Nggak serta merta bikin anak kita dalam bahaya.

Biar nggak galau: Begini Cara Saya Menjalani Hidup Sebagai Ibu Bahagia

Alih-alih menerapkan
standard tinggi pada diri sendiri, akan jauh lebih baik kalau kita kroscek sama orang-orang terdekat. Apa bener mereka juga pengen kita jadi supermom yang nggak pernah salah? Jangan-jangan kayak anak saya tadi yang justru pengen saya sesekali diem aja, doing nothing, tapi hepi. Daripada saya ngoyo nyelesaiin kerjaan rumah tapi at the end malah jadi uring-uringan.

Alih-alih tertuduh dan ngerasa bersalah gara-gara nggak bisa bawain bekel makan siang yang lucu ala-ala bento itu, pernah nggak kita coba tanya sama anak-anak gimana perasaan mereka kalau bawa bekel seadanya. Atau jangan-jangan mereka justru fine-fine aja tuh sesekali disuruh jajan di sekolah. Hal ini penting supaya kita tetep waras, being happy dan tetep jadi manusia seutuhnya.

Because motherhood is not about being perfect mom. It’s about how to deal with imperfection and be grateful for having wonderful life with your kiddos. 


Happy parenting!



39 comments:

  1. Setuju banget ... bisa jadi target yang membuat ibu ingin menjadi sempurna itu belun tentu sempurna di mata anak ya, adanya malah sedih saat ibu 'sakit.'

    ReplyDelete
  2. Bagus sekali tulisannya Mbak Bety. Saya sepakat, bahwa tidak ada Ibu yang sempurna. Setiap kita berada pada tahap terus belajar untuk memperbaiki diri. Kalaupun ada kekurangan, itu wajar. Kalau saya pribadi meyakini, bahwa Intinya adalah, berusaha menjadi ibu yang lebih baik dari hari ke hari. Belajar dari kesalahan, dan mencoba memperbaiki. Tidak segan meminta maaf jika kita salah. Makasih sharingnya ya Mbak, jadi pengingat buat saya untuk lebih bijaksana lagi dalam berpikir, agar tetap bahagia.

    ReplyDelete
  3. Tulisan ini jd moodbooster aku yg lagi mellow di hari ini..

    Kereeeeen... 👍👍👍

    ReplyDelete
  4. Setuju Mba Bety,tulisannya mewakili aku bangeet. Aku baru 4 tahun jadi ibu. Pernah melewati masa masa ingin semua serba sempurna buat anak, tapi jadinya malah merasa ga berdaya. Segalanya buat anak sampai lupa waktu buat diri sendiri. Untung cuma berlangsung 2 tahunan, sekarang lebih realistis aja ke anak. Jadi punya waktu buat diri sendiri. Hasilnya ibu happy dan anak juga ikut happy.

    ReplyDelete
  5. Dulu sewaktu memutuskan mau bekerja dari rumah, angan-anganku tinggi. Bangun pagi, menyempatkan masak untuk bekal anak sekolah (makan siang + snack), menyiapkan urusan sebelum berangkat sekolah, antar sekolah, lalu pulang, beberes dan mulai bekerja. Faktanya? Kadang kejadian, kadang nggak.

    Awalnya aku merasa bersalah kalau nggak bisa membawakan bekal buat mereka. Tapi lama-lama biasa saja karena merekanya juga santai. "Nggak apa-apa, Mama. Jadi nanti aku beli di kantin sekolah aja?"

    Soal makanan anak-anak gampang. Mungkin karena masakan emaknya juga kadang enak kadang nggak enak, wkwkwk ...

    Tapi kalau belajar dan bermain, mereka sedih banget saat pengen didampingi dan aku sibuk sendiri. Nah, aku lebih memilih menemani belajar dan bermain ini, sih.

    Sudah happy, belum? Yaaa hidup, kadang happy, kadang sedih, wkwkwk ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kadang kita justru harus belajar dari anak-anak ya mba.. mereka bisa hepi di segala kondisi. Kenapa kita ngga

      Delete
  6. Aku baca ini berasa dipukpukin mbak bety haha, makasii yo mbok. Kadang yaa ngerasa 24 jam ga cukup ini itu gada beresnya tapi kemudian mengerucutkan pendangan aja liat apa yang penting, aku setuju banget perkara daya tahan orang emang beda-beda, jadi kuncinya emang harus tau kepasitas diri ya mbak. Rasa tidak sempurna emang ganggu, tapi kalau penerimaan kita terhadap ini bagus, aku yakin kita bakal bisa lewati hari-hari dengan happy

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mba, biar gak stress emang kudu woles. Meski gak brati trus masa bodo ya

      Delete
  7. Selama ini selalu ingin menjadi ibu yang sempurna. Daaaaan mengharapkan anak yang sempurna. Padahal kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Selalu belajar berdamai dengan situasi yang tak diharapkan. Life never flate. Selalu mensyukuri kehidupan dan mengkondisikan menjadi ibu yang berbahagia bagi diri sendiri, keluarga dan orang lain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup betul sekali mba. Kita harus ciptakan kebahagiaan itu sendiri

      Delete
  8. Ini emak yuni banget. Beliau nggak ngejar sempurna. Masalah makan, sebisa mungkin masak. Tapi kalau kami pinginnya makan jajan di luar masih oke. Rumah sebisa mungkin bersih, tapi kalau adik-adik pingin main dan jadu berantakan masih nggak masalah. Meski tak jarang seruan emak memenuhi rumah tapi masih bisa diterima oleh kami. Jadinya beliau selalu happy. Kadang ngeluhnya cuma, pas rematiknya kambuh.

    Jadi, begini tho rahasianya. Lumayan, jadi bekal yuni buat nanti ketika jadi emak. Terima kasih Mbok Betty

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, emak emak harus hepi dan tetep waras. 😗😁

      Delete
  9. Ah betul, ini isi hatiku mbok. Kenapa sih kita tu berusaba menarik frekuensi setinggi-tingginya soal ekspekstasi menjadi orang tua yang baik, sementara justru ekspektasi yang ketinggian itu rentan bikin kita stres, minder, ga menikmati peran jadi orang tua. Setel saja frekuensi yang kita lebih mudah mencapainya, toh kita dan anak2 sama2 berproses. Nice sharing, thank you mbok 😁

    ReplyDelete
  10. Ahh, sangat menentramkan. I have been there. Stres wis persis wong edan. Kadang nangis dewe, kadang ngguyu dewe. Sak iki belajar luweh-luweh, Mbak. Nek pas kesel gak nyuci, nyapu ala kadarnya. Nyuci piring sisan pas wis numpuk. Kadang masak lengkap, kadang sambel sama telor dadar. Kalau pas punya rejeki Gopood setia mengantarkan. Pokok e digawe selow. Soalnya perjalanan masih jauh. Anak masih kecil. Mending ibuk e sehat bahagia dan kuat momong lama, tinimbang ibuk e berusaha perfect tapi stres luar biasa. Semoga kita kuat!

    ReplyDelete
  11. Berasa diajak ngobrol nih sama simbok. Ngena banget karena saya pernah berada di posisi emak yg ingin sempurna. Ternyata gak enak banget. Target harus tetap ada sih tapi ga mau lagi memforsir diri. Sekarang ga mau lagi jadi emak sempurna tapi cukup jadi emak yang berbahagia. TFS :)

    ReplyDelete
  12. Sekarang saya dalam fase lebih santai menghadapi peran saya sebagai seorang ibu. Pernah dulu ingin selalu sempurna. Pengennya semua kerjaan beres dan rapi. Tapi ternyata melelahkan, makanya saya lebih berdamai dengan diri sendiri. Supaya gak sutreess hihihi

    ReplyDelete
  13. Aku juga sering kesiangan gitu, Mbak. Untungnya Sekayu itu kecil, jadi bisa aku anterin pas jam istirahat. Kecuali kalo mereka lagi pengen jajan di kantin. 😍

    ReplyDelete
  14. tulisan mbak Betty selalu bagus untuk ngomongin parenting.
    Iya bener juga ya, kadang kita berusaha untuk melakukan pekerjaan rumah sampai selesai dan menyelesaikan deadline juga, malah ujungnya jadi uring2an karena kecapean :(

    ReplyDelete
  15. Wah urusan rumah tuh memang nggak habis-habis ya mbak, sering aku pikir kalo aku ni bukan ibu yg baik untuk si kecil tapi kan memang tak ada ibu yg sempurna

    ReplyDelete
  16. Halo mba Betty. Kdang emang kerasa sih semuanya pengen sempurna. Tapi pas nggak tercapai, malah stres sendiri. Kayaknya harus lebih sering kompromi dengan diri sendiri ya

    ReplyDelete
  17. Iya banget. Kesempurnaan milik Tuhan dan kita hanya makhluk yang bisa salah bahkan sering. Daripada jadi Ibu yang nggak bahagia, lebih baik manusiawi saja.

    ReplyDelete
  18. Kesempurnaan hanya milik Tuhan, kita hanya manusia biasa dengan lebih dan kurang...setujuuuh akuuh
    Kalausemua mau diturutin dikerjakan bisa hilang kewarasan. Maka maklum saja kalau pulang sekolah mampir beli sayur, pagi ngasih anak sarapan roti atau serela dan minta jajan aja siangnya nanti..it's oke
    Semangat semua bukibuk..ingat tetap waras ya dan baca artikel ini buat penyemangatnya

    ReplyDelete
  19. Emak emak lyfe emang nano nano ya mbak..
    Tapi tetap harus dijalani dgn penuh kewarasan, anak anak nggak butuh super mom, mereka butuh happy mom
    Cz happy mom raise happy kids :)

    ReplyDelete
  20. Aku suka quote-nya. Tidak ada yang bisa menjadi ibu sempurna. Aku tahu, apalagi kalau lihat nyokap, dari padangan kita yang sebagai anak aja suka mikir. "kok nyokap aku gitu ya!" gimana nanti pas aku yang jadi ibu!

    ReplyDelete
  21. Kak Bety.. hug hug hug.... Ini aku banget nih. Ngurus 2 anak tanpa art dengan standar tinggi itu nyiksaaaaaa banget.

    Anak pertama mesti sayur, anak kedua MPASi harus homemade dan suami berharap aku masak tiap hari. Then... Akhirnya kalau aku kesiangan dikit aja.. meledaaakkkk

    Pemicu stress buat ibu itu sederhana bamget, tapi kaya rutin gitu Dateng tiap hari. Selama standars dan pola fikir belum dirubah ya gitu Mulu pastinya...

    Tapi... Merubah cara pandang atau persepsi itu kadang lebih sulit daripada yg kita duga. Bergulat dengan diri sendiri jg menyakitkan

    ReplyDelete
  22. Aku setuju mbak kalau memang terkadang multitasking membuat kita kelelahan dan melupakan beberapa bagian yang penting dari sebuah proses kehidupan sebagai seorang Ibu.

    ReplyDelete
  23. Menurutku supermom itu bukan yang multitasking. Tapi bisa mengatur dan mendidik segalanya. Karena aku pernah tau ada wanita yang rumah selalu rapi, anaknya banyak, sekolahnya sukses, ga punya pembantu. Dia ga melakukan semua sendirian tapi mengatur dan mendidik anak bisa mandiri.

    ReplyDelete
  24. Perfect mom does exist.. but they dont have kids yet! Haha yg penting sih menurutku jadi good enough mom ya mbak ;)

    ReplyDelete
  25. Oh Ibu~~~

    Aku awal memutuskan resign juga sangat stres mbak, tetapi makin aku makin nerimo dan akhirnya aku betah di rumah bersama anakku

    Walau sampai sekarang masih meraba, untuk menjadi ibu yang baik untuk anakku,

    ReplyDelete
  26. Aku banget nih mbak. Siang sibuk ini itu urus anak dan keluarga, malam waktunya drakoran. Beneran deh ketika jadi orang tua udah gak bisa lepas pikirin anak.

    ReplyDelete
  27. Saya waktu baru melahirkan pengennya juga bisa jadi ibu yang seidealis itu karena sebelumnya udah pasang target tinggi, anak harus inilah itulah so ketika menjalani sesuai dengan pemahaman idealis saya dalam mengasuh bayi ternyata itu berat dan saya akui saya nggak bisa seidealis itu. So daripada stress sekarang saya lebih menikmati peran sebagai sorang ibu dengan santuy , nggak pengen terlalu memaksakan ekpektasiku dengan realita.

    ReplyDelete
  28. Jadi emak emak emang seru yah mba hidupnya.

    Kewarasan itu perlu bgt bagi kita anak anak nggak butuh super mom, mereka butuh happy mom so yuk semua mom qt happy yuk

    ReplyDelete
  29. Absolutely agree mbaak. Kuncinya memang selalu berusaha, berdoa, dan terus belajar. Supermom buat saya adalah mom yang ga berhenti belajar untuk menjadi orang tua terbaik bagi anak2nya. Semoga, itu adalaah kita :)

    ReplyDelete
  30. Iya emang capek banget & kerasa bikin stres kalau kita terlalu ngejar standar yg kita ciptakan sendiri... Apalagi ketika kenyataannya sulit dipraktekkan, emang jadi guilty gitu. Menurutku setiap ibu punya kondisinya sendiri, jadi gak perlu dituntut sama kayak orang lain yg kelihatannya lebih perfect as a mom.

    ReplyDelete
  31. Semua yang menjadi orangtua waktu Bobo nya akan berkurang tapi kebahagiaannya ga bisa terbayar yah

    ReplyDelete

Hi there!

Thank you for stopping by and read my stories.
Please share your thoughts and let's stay connected!

Bottom Ad [Post Page]