Well Behave :)



Banyak temen saya yang kalo ketemu anak-anak saya suka amazed. Kok anak-anak saya well behave ya, anteng, nggak norak, nggak ngeselin dan kesannya alim gitu. Enak, enggak ngacak-ngacak kalau dibawa bertamu. Diajak ketemuan di luar rumah juga anteng, nggak neko-neko. Well, honestly mereka itu saya didik untuk jadi seperti itu. Pendidikan anak usia dini itu kan nggak melulu di sekolah yes. Justru di rumah, mereka harus kita ajarin sopan santun, etika, dan segala tetek bengek soal kehidupan sosial.



Meski mereka alim, Kevin dan Rafa kecil tetep aja anak-anak. Mereka juga punya tingkah menyebalkan, ngeselin, dan kadang ngajak gelut maminya yang cantik ini. Saya tetep membolehkan mereka untuk “jadi anak-anak” dengan segala kerewelannya. Mereka tetap bebas menjadi diri mereka sendiri. Tapi, ada waktunya mereka juga harus taat sama aturan yang saya terapkan. Di antaranya adalah stay calm and well behave when interact with other people, terutama di luar rumah.

So, hampir nggak pernah ada insiden anak-anak saya itu rewel tanpa sebab, bertingkah nyebelin atau bikin malu di depan banyak orang. Mereka tahu bagaimana harus bersikap sopan dan enggak neko-neko. Di sekolah juga, anak-anak nggak pernah berulah. Mereka bersikap sewajarnya, sesuai dengan perkembangan usianya, dan guru-gurunya selalu report kalau mereka termasuk murid yang baik. Nggak punya “musuh” enggak ngerepotin guru, dan nggak usil sama siapapun. Pokoknya all is good.

Kenapa saya berprinsip anak-anak harus behave di depan orang lain? Karena saya nggak mau mereka tumbuh menjadi pribadi yang arogan, semaunya sendiri dan nyebelin bagi orang lain. Once mereka dapet lampu hijau untuk neko-neko, akan sulit mengarahkannya lagi ke jalan yang bener. *halah*

Soalnya pengalaman saya nih ada beberapa anak yang -menurut saya- enggak banget deh. Di sekolah Kevin contohnya. Ada beberapa anak yang masih suka teriak-teriak, ngegangguin temennya (even if temennya itu cuman anteng), lari-lari keluar kelas saat pelajaran berlangsung, nyubitin gurunya, ngejekin orang dewasa yang mencoba menegurnya, dan banyak lagi deh keusilannya yang cukup bikin emosi jiwa. Malesnya lagih, pas giliran bapaknya ada, tuh anak juga enggak ditegur atau diingetin untuk mengikuti pelajaran di kelas dengan baik. Malah kesannya, anak justru dibiarkan seolah apa yang dilakukannya itu nggak papa, boleh, wajar dan biasa aja. 

Nggak sekali dua kali ada wali murid yang komplen ke pihak sekolah karena ulah si anak itu. Tapi, setelah setaun berlalu dan sekarang udah pindah kelas, kelakuan si anak nggak ada perubahan. Gurunya kewalahan dan temen-temennya males bertemen karena gak mau direcokin.

Saat dibawa ke acara-acara di luar sekolah, anak-anak spesial ini tetep menunjukkan perilaku yang sama a.k.a nyebelinnnnn. Sampe-sampe beberapa ibu nyeletuk gini, “Itu ama emaknya kagak diajarin sopan santun apa yak di rumah?” Tuh kannn gue bilang juga apah? Nggak cuman saya doang kan yang KZL.

Karena sejak awal saya emang anti banget sama anak yang enggak bisa diatur, makanya saya ama suami udah bertekad sejak dulu komit ngedidik anak dengan dasar yang benar. Mereka harus paham apa yang boleh dan enggak boleh dilakukan, dan bagaimana harus bersikap sama orang lain. Tentu, tetap dalam kerangka fase perkembangannya dong ya. Saya enggak maksain mereka bisa anteng di usia setaun kok -emangnya robot, bisa diswitch off gitu-. Saya ngajarin mereka secara bertahap sampai mereka bisa berinteraksi dengan baik.

Prestasi saya mah receh. Semacam Rafa yang enggak pernah mukul orang lain. Kevin yang enggak pernah rewel saat diajak kondangan, nggak pernah tantrum di depan rak mainan, atau menendang teman sekelasnya. Itu aja bikin saya hepi banget. At least, saya telah menumbuhkan pria-pria yang berhati lembut.

Mampir sini yuk : Tips Menangangi Anak Tantrum

Tapi, meski anak-anak saya cukup well behave, jangan bayangin saya ngedidik mereka dengan tangan besi loh Moms. Saya emang orangnya rame, nyablak, kalo ngomong suka asal. Tapi untuk anak-anak, saya berusaha enggak pake kata kasar apalagi main tangan. Well, beberapa kali sih memang saya khilaf, namanya juga manusia. Nepok pantat mereka atau njewer telinga saat mereka bener-bener enggak bisa dikasih tau. Tapi, itu cuma selingan. Hanya saat saya khilaf aja. Dan untungnya saya nggak sering-sering khilaf hahaha.

Dalam mendidik anak-anak, saya berusaha seminimal mungkin menggunakan kata tidak, jangan, atau nggak boleh. Ingat ya Moms, meminimalkan bukan berarti nggak memakainya sama sekali. Saya tetap menggunakan kata-kata itu, hanya dalam situasi yang bener-bener penting.

Pentingnya Membentuk Karakter Anak

Anak-anak itu lahir dalam kondisi yang bersih. Ibarat kertas, mereka manut aja kita mau nulis atau gambarin apa di atasnya. Nanti hasilnya, baik buruknya, akan dilihat sama banyak orang. Kalau bagus, mengesankan, apalagi amazing, pastilah ortunya dipuja puji. Sebaliknya, kalau hasilnya nggak maksimal, banyak kekurangan dan enggak banggeeut, si ortu juga bakalan dihujat. Nah, segitu pentingnya lah peranan ortu membentuk karakter anak.

Mengingat hal itu, pendidikan anak sejak usia dini sangat wajib dilakukan dengan benar. Moms and Dads adalah dua tiang penting yang bakalan bikin fondasi karakter anak yang paling dasar. Kalau parentsnya salah ngasih batu pertama, ya anak bakalan salah asuhan.




Lalu apa saja sih yang sebaiknya kita ajarkan sejak dini?

Nilai-nilai religius

Pilar pertama ini harus banget diajarkan sejak anak masih di perut. Nggak susah kok, kita bisa mengajaiknya berdoa, bernyanyi, membaca kitab suci sejak dia masih jadi janin di rahim. Inget kan, janin juga sudah bisa merespons dan merekam banyak stimulasi dari luar. Apalagi kalau yang menstimulasi adalah ibunya.

Hal ini bisa dilanjutkan setelah mereka lahir, lewat beragam aktivitas kerohanian yang kita lakukan atau ikuti. Meski awalnya belum ngerti dan nggak paham, anak akan merekamnya dan memahaminya seiring berjalannya waktu dan kemampuan mereka.

Baca ini yuk : Tips Mengoptimalkan Kecerdasan Anak Sejak Dalam Kandungan 


Sopan santun dan etika

Dalam berinteraksi dengan oranglain, anak juga wajib paham apa yang boleh dan enggak boleh mereka lakukan. Makanya, sejak anak mulai bergaul dengan dunia luar, kita harus mengenalkannya bagaimana bersikap dan bertutur kata.

Mulailah dengan mengajarinya bersikap yang benar pada anggota keluarga dekat, lalu berlanjut dengan keluarga jauh, tetangga, relasi atau teman-teman di sekelilingnya. Tunjukkan contoh bagaimana berhubungan dengan orang lain sesuai budaya dan nilai-nilai agama ya Moms. Nah inilah poin penting saya ngajari anak-anak gimana harus behave saat ketemu orang yaa..


Menghargai orang lain

Masih berhubungan dengan sopan santun dan etika, kita juga bisa mulai mengajarinya untuk menghargai orang lain. Apapun latar belakangnya, anak harus paham bahwa mereka nggak boleh melecehkan, apalagi membullynya. Ajarkan bahwa semua makhluk hidup adalah ciptaan Tuhan yang harus dihargai dan disayangi.

Saat mereka memasuki usia sekolah, anak-anak juga harus paham bahwa guru dan orang dewasa lainnya di sekolah adalah mereka yang harus dihormati, disegani, dan didengarkan. Bukan untuk dilecehkan, atau diremehkan. Anak-anak yang nggak hormat sama guru, bisa jadi orang tuanya nggak menanamkan nilai-nilai yang benar tentang hal ini. I bet u!


Menghargai diri sendiri

Untuk bisa bersikap sopan, kita perlu mengerti pentingnya menghargai diri sendiri. Anak-anak juga harus memahami bahwa diri mereka itu berharga, jadi sangat penting untuk membentuk citra diri positif. Saat mereka tau diri mereka berharga, mereka akan menjaga diri sendiri agar tetap layak untuk disebut “baik”

Kayak Kevin misalnya, di usianya yang ke-5 ini, dia enggak suka kalau orang lain mengatainya nakal atau usil. Sebab, menurutnya, dia enggak nakal, enggak gangguin orang lain, dan enggak merusak benda-benda di sekitarnya selama di luar rumah. Beda cerita sama “kapal pecah” yang selalu dibuatnya setiap hari di rumah. Gitu sih, prinsip saya ngedidik dua jagoan hebat itu.

Meski saya bukan ibu yang sempurna, tapi saya harap didikan saya sudah tepat dan benar. Pada gilirannya, di setiap doa-doa saya, selalu ada nama mereka, teruntai dengan harapan, mimpi dan cita-cita terbaik untuk masa depan mereka. 

Kalau Mommies gimana cara keren versi kalian dalam ngedidik dan ngebentuk anak-anak hebat di rumah? Boleh dong sharing!


Salam,



Posting Komentar

8 Komentar

  1. Tulisan mb Bety bikin sy introspeksi diri nih.. sy sering banget bilang jangan dan gak boleh. Awalnya sy gunakan kata positif, tp si kecil suka bgt langsung berkata sebaliknya tanpa pikir panjang hehe misalnya kalo berkata terlalu keras atau nyanyi di kendaraan umum, sy bilang pelan2 ya, lalu anak akan langsung bilang, aku mau keras2, begitu berulang2 hingga akhirnya mamak beralih ke kata jangan n tidak boleh wkwk ah sy kok jd curhat haha

    BalasHapus
  2. Ga beda jauh dulu, di rumah mau bandel rakus atau apapun terserah, tapi di luar rumah sudah cukup

    BalasHapus
  3. Bener banget Mbak. Mendidik anak memang harus kita kasih teladan. Alhamdulillah, saya sudah menerapkan beberapa hal yang Mbak Betty tulis. Terima kasih sharingnya. Semoga kita termasuk orang tua yang senantiasa diberikan kemudahan dalam mendidik buah jati kita ya Mbak.

    BalasHapus
  4. bisa banget buat panduan kelak kalau yuni udah punya anak. Hehehehe

    Anyway, terima kasih sudah berbagi kak bety.

    BalasHapus
  5. Setuju banget Mbak. Orang tua haruslah bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya. Terima kasih sharingnya ya.

    BalasHapus
  6. Tios penting ini. Terima kasih sudah diingatkan kembali Mbak Bety. Saya masih banyak khilafnya nih hihihi
    Memang weel behave enggak bisa seketika. Butuh proses untuk mengajarkannya sejak dini sehingga bisa jadi kebiasaan diri.

    BalasHapus
  7. PR banget kalau urusan ngedidik anak. Sekarang aku lagi memasuki fase Najwa suka mendebat, dan itu beneran bikin panas kuping. Sudah gitu akhir-akhir dia mulai agak kasar. Aku selalu ingetin untuk biasa saja, nggak perlu ngomong kenceng-kenceng atau teriak. Nggak usah kasar-kasar kalau ngajak orang lain. Tapi dicuekinnya. Akhirnya ku selow dulu, karena semakin kuingatkan dia semakin berontak. Mungkin ada yang salah dengan caraku, makanya aku sedang introspeksi diri. Anakku dua-duanya karakternya lumayan keras. Lumayan butuh sabarrrr banget. Tapi gak menyerah kok, tetep positif thinking.

    BalasHapus
  8. Sammma deh...anak² hrs dididik well behave. Sopan santun yg utama. Alhamdulillah sih dulu dua²nya engga ada report aneh² dr sekolahnya.

    BalasHapus

Hi there!

Thank you for stopping by and read my stories.
Please share your thoughts and let's stay connected!