Thursday, January 23, 2020

“Tau nggak Mi, ada loh temenku yang sampe pengen bunuh diri,” kata si Mbarep kapan hari.

Kalimat pendek yang spontan terucap tadi bikin saya terkaget-kaget. Yang bener aja sih, batin saya. Kok bisa segitunya anak SMP punya pemikiran yang mengerikan.

Puisi anakmu khalil gibran


Anak-anak saya emang terbiasa bercerita apa aja sama saya. Baik itu hal-hal yang mereka inginkan, barang-barang yang mereka pengen, atau sekedar berdebat tentang sesuatu hal sepele selalu bikin waktu-waktu kami rame banget. Jarang lah kami ini diem-dieman kalo pas lagi ngumpul. Hal ini emang udah saya biasain dari mereka kecil. Meski anak-anak di rumah cowok semua, bukan berarti mereka nggak doyan ngobrol loh. Sering kali saya malah kewalahan ngeladenin ocehan mereka. Kalau kalian mau tau gimana serunya hari-hari saya sama anak-anak cowok itu, kuy mampir ke sini ya. Saya udah tulis poin pentingnya.

Namun dari ratusan perbincangan yang pernah kami alami, obrolan sore itu sungguh bikin saya shocked. Gimana enggak, saya beneran nggak nyangka kalau ada temen anak saya yang punya pemikiran segila itu. Langsung dong saya menginterogasi si Kakak. Tentu saja tanpa nada marah atau menyelidik yang berlebihan lah yaw. Salah-salah si kakak malah nutup mulut deh.

So, dari hasil percakapan sore itu, saya dapet info kalau si X ini (cewek, kelas XI) tertekan banget sama perilaku ortunya yang menurutnya terlalu menuntut. Jadi nih, si anak ini suka dan punya hobi seni. Tapi sama ortunya, dituntut untuk jadi insinyur. Dan setiap pulang sekolah, dia udah ditungguin sama serentetan les ini itu yang intinya bikin dia nggak punya waktu untuk bersantai sejenak. Bahkan untuk sekedar nonton tivi atau ngeyutub aja nggak bisa. Terkadang, masih menurut si X ini, dia bengong pun diomelin sama orangtuanya. Pokoknya serba salah di mata ortunya.

Kebetulan, saya pernah beberapa kali ngobrol sama mamah si X ini. Jadi, dulu pas SD anak ini bersekolah di sekolah alam, sebuah sekolah inklusi yang cukup terkenal di kota kami. Nah, pas SMP ortunya pengin mengenalkan dia sama sekolah umum. Dan saya baru tau (berdasarkan cerita anak saya tadi) ternyata orangtuanya itu udah punya rencana besar supaya si X ini kelak bersekolah dan kuliah di jurusan eksak. Sesuatu yang jelas-jelas menyiksa buat si anak.

Saya sih nggak mau menghakimi dan mengambil kesimpulan apa-apa karena menurut saya masih terlalu dini. Apalagi saya nggak ngerti secara detail bagaimana keseharian si X dan keluarganya. Tapi, kalau sampai dia berani cerita ke temen-temennya soal keinginanannya untuk bunuh diri, saya pikir sudah bukan sesuatu yang wajar. Pasti ada hal yang memang begitu menekannya sampai-sampai dia kepikiran hal seperti itu.

Second thing, saya juga baru tahu si X ini udah kenal vape. Dan beberapa kali cerita dia diomelin mamahnya. Bayangin, anak cewek, usia kelas 3 SMP, udah kenal vape dan udah beberapa kali ketangkep basah ama guru BK. Tapi dia nggak kapok juga, wong bilangnya si ortunya juga ngerokok semua. Haduuh, pengen marah nggak sih Moms?

Well, saya ini bukan orang yang kolot dan menentang modernitas. Harus saya akui, jaman now ginih udah jamak cewek ngerokok. Saya bahkan punya beberapa temen cewek yang perokok juga. Tapi, plis deh, ini mereka ngomelin anak gadisnya gara-gara ngerokok, tapi sendirinya juga merokok. What the f***! Yekaaan?

Puisi anakmu khalil gibran

Hubungan Orangtua dan Anak

Meski jaman udah semakin maju dan nilai-nilai lama mulai banyak berganti dengan hal-hal yang lebih kekinian, nyatanya dalam hal pola pengasuhan anak, masih banyak orang tua yang tanpa sadar mengadopsi pola didik jaman baheula. Contoh nyata dalam kasus ini ya cerita saya di atas. Coba saja kita lihat di sekitar. Ada berapa banyak orang tua yang ngerasa bahwa anak itu milik mereka? Orang tua lupa bahwa sejatinya anak hanyalah titipan semesta yang punya kehendak dan kebebasan dalam menentukan masa depannya.

Saya langsung ngerasa gimana ya kalau saya ada di posisi si X tadi. Kemungkinan besar, saya pasti akan ngerasain hal yang sama. Saya pasti marah dan kesal sama keadaan, mungkin juga saya akan menyalahkan orang tua dan bahkan membenci mereka karena nggak mau ngertiin saya. Bukan nggak mungkin, saya akan jadi anak yang menyebalkan, trouble maker dan bikin orang tua saya kesel. Atau, bisa jadi saya justru akan menutup diri, jadi introver, dan depresi. Ah, merinding saya ngebayanginnya.

Related post : Bikin Anak Well Behave? Ada Caranya Loh


What Should We Do as Parents

Saya percaya, setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik buat anak-anaknya. Hanya saja, nggak semua orang tua tau pasti bagaimana melakukannya dengan baik. Masih ada banyak orang tua yang tanpa sadar memperlakukan anak sebagai dirinya sendiri sehingga mengejar sesuatu yang sebenarnya adalah keinginan orang tua, tapi mengatasnamakan anak-anaknya. Sebagai contoh, mungkin ada orang tua yang dulunya pengen jadi penari balet tapi nggak kesampaian. Nah giliran punya anak, eh si anak yang disekolahin balet dan diarahin jadi penari balet profesional. Padahal, belum tentu si anak punya passion yang sama dengan orangtuanya. Kalau kebetulan anaknya sukak dan emang bakat sih nggak masalah. Lah kalau kejadiannya sama seperti temen si kakak tadi, gimana?  Ngeri kan?

Bisa saja sih anak itu ngikutin maunya ortu. Tapi siapa yang bisa jamin jauh di lubuk hatinya dia tertekan? Siapa yang bisa jamin dia nggak akan menyesal di kemudian hari dan merasa nggak happy?

Well, menurut saya yang masih cetek jadi orangtua ini, memperlakukan anak layaknya boneka bukanlah hal yang  patut. Anak adalah pribadi yang merdeka. Terlepas dari seberapa besar “hak istimewa” kita sebagai orang yang melahirkan dan membesarkan mereka, anak-anak tetap punya hak untuk menentukan masa depannya juga. Kita nggak boleh menjadikan obsesi kita sebagai obsesi anak. Bukankah kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan kita juga?

Intip yang ini juga yuk : Serunya Punya Anak Laki-laki

Tulisan ini murni hasil pemikiran saya sebagai orangtua dari anak remaja yang beranjak dewasa dengan segala kemampuan berpikirnya yang semakin kompleks. Saya sungguh ingin anak-anak saya nantinya bahagia dengan pilihan mereka di masa depan. Saya nggak pengen mereka menyesal dan membenci saya karena memaksakan pilihan dan menyuruhnya melakukan ini itu yang belum tentu mereka sukai. Memang benar, saya dan suami selalu dan akan senantiasa menunjukkan hal-hal yang menurut kami baik. Tapi, kami berusaha juga untuk ngertiin mereka dan membiarkan mereka menentukan jalannya sendiri. Selama apa yang mereka inginkan positif, kami akan memberikan doa restu. Sebaliknya, ketika mereka menghadapi kesulitan, sudah semestinya kami mendampingi dan memberikan bantuan.

Saya percaya, Mommies dan Daddies ingin yang terbaik juga untuk buah hatinya. Karena itu, mari kita lakukan yang semestinya kita lakukan  dalam mengasuh anak-anak titipan semesta.

Puisi anakmu khalil gibran


Sebagai penutup berikut saya tuliskan puisi Khalil Gibran. Semoga menginspirasi.

Anakmu Bukanlah Milikmu
-Khalil Gibran-


Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra-putri sang hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.


Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.


Berikanlah mereka kasih sayangmu, namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri.


Patut kau berikan rumah bagi raganya, namun tidak bagi jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi, sekalipun dalam mimpimu.


Engkau boleh berusaha menyerupai mereka, namun jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur, ataupun tenggelam ke masa lampau.


Engkaulah busur asal anakmu, anak panah hidup, melesat pergi.
Sang Pemanah membidik sasaran keabadian, dia merentangkanmu dengan kuasa-Nya,
hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.


Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana dikasihi-Nya pula busur yang mantap.



Happy Parenting!

8 comments

Duuh... Orangtuanya belum move on Ya dari pengasuhan ala kolonial padahal anaknya udah generasi Milenial. Aku sih yang penting anak bahagia menjalankan profesinya. Aku akan dukung apapun itu selama untuk kebaikan.

REPLY

Hhhhmm, bener banget Mbak. Jadi orang tua enggak boleh egois paksakan banyak hal sam aanak. Cukup sudah banyak kasus tentang anak yang bermasalah karena miliki hubungan yang enggak baik dengan ortunya. Bneeran speechless kalau baca berita kayak begini. Semoga makin banyak ortu yang sadar deh dengan kebutuhan anaknya, bukan hanya penuhi ambisi masa kecilnya yang tidak tercapai dan ingin diwujudkan oleh anak.

REPLY

Ada anak yang legowo mengikuti kemauan orang tua. Namun nggak sedikit yang seperti teman kakak itu. Yah, tinggal bagaimana anaknya saja lah ya, Mbok. Hehehe

REPLY

Sudah lama ga mampir ke Blog Mbak Betty. Langsung ketemu tulisan ini, aku jadi harus koreksi diri lagi. Terkadang suatu saat, tanpa tidak sadar kita jadi maksain kehendak :(

REPLY

Sedih ya ada ortu kayak gitu. Masih banyak pula yg menganggap anak itu kertas putih, mau ditulisin apa aja bisa.

REPLY

Puisi Khalil Gibran inilah yang sering membuat saya tiba-tiba "stop" manakala emosi mulai naik, hahaha...

Ternyata anak makin beranjak dewasa, makin sering bikin emaknya galau tingkat tinggi, ih apa seh...malah curhat, hahaha

REPLY

model orang tua gini masih banyak ya mbak Bety di zaman yang "serba terbuka" jatohnya emang memaksakan kehendak, turut sedih dengan kejadian begini. Kakak iparku agak otoriter sih ke enaknya, mungkin latar belakang militer bisa jadi pengaruh juga ya. Aku sih speechless baca ini dan kalau ketemu ponakanku sendiri, semoga dengan berjalannya waktu semakin banyak orang tua yang mau berpikiran terbuka ya aamiin

REPLY

Anak anak jaman sekarang semakin ditekan akan semakin berontak. Kita harus menjadi temannya sekarang, ndak bisa otoriter kayak jaman bahuela

REPLY

Hi there!

Thank you for stopping by and read my stories.
Please share your thoughts and let's stay connected!

Smart Mom, Happy Mom . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates