Menyapih dengan Cinta, Bisa Nggak Sih?

Menyapih dengan cinta




Hai Moms,

Pernah nggak sih punya pengalaman menyapih yang penuh drama? Saya pernah loh.
Yang pertama sama si Kakak. Dulu, saat pertama kali jadi ibu saya ini temasuk emak yang stres. Ketidaksiapan mental menjadi ibu baru ditambah bayi spesial yang hobi menangis dan nggak punya ART, membuat saya kena beby blues syndrome yang lumayan parah. Sayangnya, kondisi itu ditambah ketidaktahuan kami semua tentang sindrom laten ini.

Ya, baby blues adalah sindrom yang sangat berbahaya tapi jarang disadari. Baik oleh penderita maupun orang-orang terdekatnya.

Semua kondisi itu membuat saya rapuh dan down. I was mentally and phisycally torn. Salah satu efeknya adalah ASI yang enggak lancar. Terpaksa, si sulung harus minum lebih banyak susu formula ketimbang ASI. Akhirnya setelah mencoba beragam cara, saya harus menghentikan pemberian ASI di usianya yang belum genap 4 bulan. Well, saya nggak akan membahas kenapa saya harus melakukan ini. Tapi percayalah, semua itu saya lakukan dengan banyak pertimbangan. Mengingat kondisi saya yang labil.

Masa penyapihan Rafael berlangsung sekitar satu minggu. Dan 3 hari pertama rumah selalu penuh dengan jeritan dan lolongan. Sekuat tenaga, saya menahan diri untuk nggak ngasih ASI dan menggantinya dengan botol susu. At the end, si kakak akhirnya bisa menerima kehadiran dot sebagai pengganti puting saya.

Baca juga : Mother and Son Bonding, Seberapa Penting Sih?

Anak kedua, saya lebih siap. Dengan pengalaman kakaknya dulu, sejak sebelum hamil hingga melahirkan saya sudah menyiapkan diri lahir bathin menerima kehadiran bayi lagi setelah 9 tahun. Dan, puji Tuhan, semua berjalan jauh lebih smooth dan menyenangkan ketimbang kakaknya dulu. Meski tetap harus menjalani proses operasi SC, saya lebih prepare dan happy.

Si bontot ini lebih beruntung dari kakaknya karena saya bisa memberinya ASI hingga usianya tepat 3 tahun. Ngg… memang sih ini seperti ajang pembalasan dendam saya karena dulu nggak bisa ngasi ASI full sama Rafael.


Menyapih dengan cinta


Meski sangat puas dengan periode menyusunya, nyatanya Kevin nggak begitu saja lepas dari ASI loh. Saya harus mencoba hingga 3 kali sebelum akhirnya dia bisa benar-benar say goodbye sama nenen.

Pertama, saya mencoba menyapihnya saat usianya 2.5 tahun. Waktu itu saya pake metode forced weaning alias menyapih dengan “paksa”. Jadi, payudara saya olesin sedemikian rupa biar Kevin kapok dan menolak puting susu saya. Mulai dari minyak kayu putih, bratawali yang pahit, hingga terasi. Hahaha yang terakhir ini spekta banget deh pokonya baunya.

Apa hasilnya? Kevin rewel setengah mati, sementara sayanya kesakitan karena payudara bengkak dan nyeri. Adem panas deh akhirnya. Udah gitu, dia nolak semua yang saya sodorkan. Mulai dari susu formula, susu UHT hingga susu murni dan teh manis. Kasihan kan?

Sebagai bentuk protesnya, Kevin menangis dan merengek nggak berhenti sepanjang hari. Diajak sama orang lain pun enggak mau. Pokoknya nempel sama saya, sambil beleleran air mata. Huhuhuhu.. saya jadi ikutan nangis.

Walhasil, di hari ketiga saya nyerah. Soalnya, Kevin jadi demam dan enggak mau makan. Huaaa.. simbok enggak tega. Yo wes, akhirnya dikasih lagi deh tu puting.

Kedua kali, saya cobain lagi menyapih selang 3 bulan kemudian. Dan, percobaan yang kedua ini langsung gagal karena (lagi-lagi) Kevin sakit pas disetop ASInya. Kali ini, papinya yang enggak tega dan nyuruh saya tetep ngasih ASI. Soalnya Kevin ini kebiasaan kalo sakit enggak doyan makan samsek. Jadi bawaannya lemes gitu. Semua makanan dan minuman akan langsung ditolaknya.

Setelah pusing dengan dua kali percobaan yang gagal, akhirnya saya menguatkan diri untuk mencoba satu metode terakhir yakni WWL (Weaning With Love). Metode ini tadinya ditentang sama ibuk saya, karena dianggap gak akan berhasil. Mana ada bayi yang sukarela disapih? Sejak jaman nenek buyut juga nyapih bayi tuh harus dipaksa. Gitu katanya.

Tapi kali ini saya keukeuh mau pake metode WWL. Pertimbangannya adalah, saya nggak mau bikin Kevin trauma dan jadinya nggak deket sama saya. Meski saya sadar konsekuensi dari metode ini adalah butuh waktu yang lama. So, saya harus ekstra sabar.

Singkat kata, saya berhasil menyapih Kevin dalam waktu 3 bulan. Pas di ulang tahun ke-3 nya, Kevin lepas puting dan sama sekali enggak pernah nenen lagi sampe sekarang. Yeaay!


Lalu apa sih yang saya lakukan dengan metode WWL ini? Cuss ikuti cerita saya ya

Percaya diri
Menyapih bukan hanya urusan si bayi, tapi juga ibunya. Terkadang si ibu yang justru enggak rela ngelepas balitanya dari dekapan. Sama seperti yang saya alami di atas. So, sebelum menyapih, kita yang harus nyiapin mental duluan. Biar anak enggak rewel. Soalnya anak adalah cerminan ibunya. Kalau si ibu panik atau grogi, anak akan meresponsnya dengan hal yang sama.



Bentuk tim yang solid
Nyapih anak juga bukan perjuangan ibu sebagai single fighter. Kita butuh dukungan dari orang-orang terdekat, terutama suami dan orangtua (kalau masih tinggal bersama atau dekat). Kita bisa minta bantuan mereka untuk ikut serta mengasuh anak, selagi kita mengurangi jam-jam menyusunya. Ayah juga wajib mendukung proses penyapihan ini dengan meluangkan banyak waktu bersama anak. Jadi, anak enggak merasa diabaikan.


Lakukan dengan lembut dan sabar
WWL takes time. Yes, absolutely! Makanya kita harus sabar dan melakukannyad dengan lembut. Jangan sampai anak merasa tertekan dan akhirnya protes dan menolak.


Beri sugesti positif pada anak
Sugesti ini penting banget loh Moms. Kita bisa membisikkan kata-kata positif secara berulang pada anak, terutama saat menjelang tidur. Ketika anak mulai keliatan mau pules, bisikin deh dengan kalimat-kalimat yang menyenangkan. Seperti, “Adek sudah besar, besok enggak nenen lagi. Kan udah jagoan.”

Selain menjelang tidur, kita juga bisa mensugesti anak saat bermain. Misalnya, “Dek, nenen itu makanannya siapa sih? Anak gede atau adek bayi?’’ Kalau dia menjawab adek bayi, saatnya kita lanjutkan dengan kalimat, “Nah, Kevin kan udah gede, bentar lagi ulang tahun loh. Berarti enggak nenen lagi ya?” kalau dia mengangguk berarti IYES. Tapi kalau dia ngamuk, hentikan dulu. Jangan membuatnya merasa seperti didoktrinasi. Ulangi besok lagi, sampai kalimat-kalimat itu merasuk ke alam bawah sadarnya. Ciyee…

Kalau saya waktu itu selalu ngulangin kalimat, “Kevin udah gede, udah bukan bayi lagi. Nenennya udah puas ya. Besok kalau ultah ke-3 udah enggak nenen lagi. Kan anak pinter…” and it works! Tepat di hari ultahnya, Kevin stop nenen. BINGO!!

Baca juga yang ini 10 Kalimat Paling Ingin Didengar Oleh Anak


Atur jadwal menyusunya
Saat melakukan WWL, cobalah untuk mengatur jadwal menyusunya. Anak yang sudah berusia lebih dari 2 tahun sebenernya udah enggak tergantung lagi sama ASI kan? Kebanyakan mereka hanya mencari kenyamanan dalam dekapan bundanya. So, cobain deh alihkan perhatiannya pada hal-hal lain yang menyenangkan. Speerti bermain puzzle, mobil-mobilan, membaca buku, bermain lego, sepedaan, dan lain sebagainya. Pokoknya biar anak enggak mikirin puting terus.

Selain itu, kurangilah jadwal menyusunya secara perlahan. Kalau biasanya sehari bisa 8 kali, mulailah dengan menjadikannya 7 kali sesi menyusui. Dan kurangilah terus setiap beberapa hari sekali sambil terus disugesti.

Saya juga gitu. Biasanya Kevin enggak ada aturan nenen, begitu menerapkan WWL, saya jadi mulai ngasih aturan buat dia untuk nenen. WEll, faktanya sih dia akan terus merangsek ke dada saya, meski saya udah ngelarang. Dan tiap kali diingetin, selalu jawab “Aku nanti kalo udah ulangtahun enggak nenen lagi. Hahaha..


Jangan Menolak, tapi juga jangan menawarinya ASI
Metode WWL itu sebenernya kayak orang pacaran tapi digantung statusnya. Dikata pacar, tapi enggak pernah diapelin. Dibilang putus, kalau malming masih suka ngajakin nonton. Dududu.. maunya opo? Wkwkwk..

Nyapih dengan cinta juga sama Moms. Jangan tawarin anak untuk menyusu, tapi jangan pula menolak saat dia meminta jatah mik cucunya. Pinter-pinter kitanya aja buat dia fokus pada banyak hal lain, selain puting payudara kita. Pokoknya,  limpahi anak dengan bentuk kasih sayang yang lain ya. Tujuannya biar anak enggak merasa tertolak atau ditelantarkan.


Menyapih dengan cinta


Nah, itu cerita saya saat menyapih Kevin dengan cinta. Emang lama sih, tapi hasilnya perfect! Kevin enggak trauma, saya juga enggak waswas dan feeling guilty. Udah gitu, kalau kita ngelakuinnya konsisten, anak akan langsung meresponsnya dengan baik. So, win-win solution, kan?

Kalau Mommies, gimana? Punya cerita apa soal menyapih anak? Sharing yuk!


Love,


Menyapih dengan Cinta, Bisa Nggak Sih? Menyapih dengan Cinta, Bisa Nggak Sih? Reviewed by Bety Kristianto on April 01, 2019 Rating: 5

16 comments:

  1. Aku sih malah diputus cinta ama anak
    Mereka yang ngga mau duluan, Dan itu sakittt rasanya 😒😒😊😊

    ReplyDelete
  2. Thanks for sharing mbak. Aku waktu anak pertama enggak mengalami menyapih, karena anaknya dari awal memang enggak mau nenen,hehe. Jadi minum ASIP pakai dot deh... Tapi menyapih dot juga lumayan PR ternyata. Akhirnya aku pakai sugesti positif itu sih. Meskipun takes time, tapi memang cukup efektif untuk menyapih anak. Tinggal si adik nih tahun depan disapih. Ibunya siapin mental sama ilmu dulu deh,hehe

    ReplyDelete
  3. Untuk anak pertama saya juga pakai cara dioles-olesin gitu. Pertamanya sih berhasil, tapi anak jadi rewel. Trus kemudian anaknya malah kebal, cuek dengan olesan-olesannya wkwkwk.
    Akhirnya salah satu jalannya, anak dibawa pulang oleh pengasuh ke rumahnya. Menginap 2 malam, baru bisa lepas. Emaknya padahal mewek juga, pisah dengan anak :((

    Kalau anak yang kedua, saya lebih mudah menyapihnya. Saat anak minta ASI, saya beri dia cemilan atau susu formula. Pokoknya jangan sampai dia merasa kelaparan dan ingin ASI. Dan cara ini berhasil, tanpa drama. hehehe

    ReplyDelete
  4. Pengennya sih weaning with love, but I have too much love, jadi gagal mulu tiap mau nyapih. Hihii.. Molor sampe 6 bulan keknya...

    ReplyDelete
  5. Waktu anak kedua saya juga pake wwl nih waktu nyapih. Memang agak lama, tapi manjur kok. Anak-anak jadi lebih siap, emaknya juga jadi gak sakit kan putingnya. Karena melepasnya secara perlahan

    ReplyDelete
  6. Aku engga sampai 2 tahun. Udh ke dokter, udh dikasih suplemen, pokoknya segala macam, tapi kempes aja. Anaknya kezel, krn engga keluar apa². Yawda brenti deh.

    ReplyDelete
  7. kakak saya tuh waktu pengalaman sapih, no drama. Karena si anak udah di kasih tau sebelumnya, kalau si nenen untuk adeknya dan dia sudah cukup nenennya. Eh ternyata nurut. Pas banget 2 tahun dia sendiri enggak mau nenen, hehe. Alhamdulillah sih enggak ada drama, jadi enggak ribet untuk ngasih taunya, hehe. Tinggal saya nih nanti gimana sapih anak, semoga juga no drama, hehe.

    ReplyDelete
  8. Bener nih, tim yang solid dan mesti sounding sejak jauh-jauh hari. Emang intinya semua harus mengingatkan dan mendukung, Dan agak sedikit "tega" dalam artian positif. Karena feeling Emak nyuambung banget sama krucil.

    ReplyDelete
  9. Anak kudua saya penuh drama mbak. Samoe akhirnya diungsikan ke rumah tantenya. Karena saya sedang hamil 4 bulan. Akhirnya dipaksa nyapih.

    Tapi anak ke tiga gamoang banget nyapihnya. Setelah saya merasa siap saya oun menyapih si kecil di usianya 2.5 tahun pake lemon yang saya birehin di puting setiap si kecil minta nenen. Lalu saya berikan, hihi... Lucu liat wajahnya. Lalu saya bilang nenenya basi. Cuma butuh satu minggu ia berhasil du sapih

    ReplyDelete
  10. He he he kalau masa menyusui aq cuma 2, 3 & 4 bulan, karena ASI sdh habis...

    ReplyDelete
  11. Macem-macem ya tiap anak reaksinya. Anakku yang kedua juga lebih lancar disapihnya. Setelah diberi pengertian diawalnya.

    ReplyDelete
  12. Wah masalah nyapih selalu ada cerita ya...pernah sampai kasih obat merah biar si anak percaya nenen mamanya sakit. Tp ujung2nya kasihan juga. Sefikit drama tapi mmg kudu ada kerjasama ya...yg pnting si anak baik emaknya juga gk kesakitan.

    ReplyDelete
  13. Saya pun demikian. Beda cara antara anak pertama dan kedua. Anak pertama gak doyan asi setelah saya tinggal pelatihan selama 2 Minggu. Sedangkan anak kedua pakai WWL. Wuih... Beda banget rasanya. Hehe.. makasih udah sharing mbak

    ReplyDelete
  14. Menyapih dengan cinta jawabannya bisa😊segala sesuatu jika dilakukan dengan cinta pasti akan berbuah hasil...meskipun perlu proses yeee

    ReplyDelete
  15. Kedua anak saya dulu juga tiga tahunan asinya hehe..waktu itu saya juga terobsesi dengan konsep WWL ini.saat menyusui ,hampir selalu bisa saya menolak tugas yang pakai nginep. Memang jadinya karir saya stagnan dibawah tapi bisa puas menyusui. Dan menyapihnya dengan cintaah , seperti mak Betty ini. Nice artikel,mbak

    ReplyDelete
  16. Aku mbaaak...nyapih tuh sampek anak bosan sendiri nggak mau nenen. Paksu selalu bilang, biarin aja nggak usah disapih. Nanti kalau bisan juga berhenti sendiri. Dan betul berhenti sendiri tapi makan waktu 3 tahun lebih. Hahaha..nggak mau drama juga ditambah aku nggak tegaan. Hehe

    ReplyDelete

Halo, saya Bety. Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini. Yuk tinggalkan jejak di kolom komentar. 😊

Powered by Blogger.