Post Page Advertisement [Top]

Hi Moms... Udah berapa lama ya saya nggak update blog ini? Hiks... Rasanya berbulan-bulan nggak menyapa kalian. Tahu nggak selama sudah sebulan lebih ini saya kehilangan mood nulis. Kepergian ibuk untuk selamanya membuat saya mayan down dan gak sanggup nulis ini itu. Berat ternyata yaaa ditinggal orang terkasih itu. 😭😭. Buat saya aja berat, apalagi buat anak-anak. 


Beberapa orang bertanya pada saya gimana kondisi Kevin setelah ditinggal titinya (eyangnya) berpulang tempo hari. Well, nggak mudah memang menjelaskan kepergian orang tersayang untuk selamanya, kepada anak-anak seperti Kevin. Mereka masih belum bisa sepenuhnya memahami apa yang dimaksud dengan “meninggal”.


Menyiapkan anak kehilangan orang terkasih


Kita, orang dewasa, aja pasti sedih ditinggal orang tercinta. Apalagi dengan anak-anak. Terkadang, mereka nggak bisa mengekspresikan perasaan yang ada, jadinya rewel dan bingung kenapa kok orang yang dicari -dalam hal ini eyangnya Kevin- nggak ada di rumah lagi. Atau kenapa eyangnya ditutupin tanah, dan lain-lain. Kalau enggak, suka ada loh anak-anak yang mengeluhkan ketidaknyamanan fisik yang susah dijelaskan sebabnya. Cucu tetangga saya sampai meraung-raung dan enggak mau pulang dari makam saat eyang kakungnya dikebumikan. Tangisan dan lolongannya membuat semua pelayat yang hadir mau tak mau menitikkan air mata. 


Efek lebih parah bagi anak-anak yang ditinggalkan orang terdekat, bisa saja berdampak pada psikologisnya. Beberapa anak bisa jadi lebih murung, pendiam, bahkan susah konsentrasi belajar. Nah kalau sudah pada level ini, sepertinya perlu pendampingan lebih dari ahli ya Moms.

 

Beruntung, hal itu nggak kejadian sama Kevin. Jauh sebelum titinya berpulang, saya sudah mengajarkan arti “meninggal” padanya. Memang nggak langsung jreng aja gitu ngomongin soal kematian ini. Kalau nggak salah, waktu itu kami lagi jalan-jalan sore dan melihat kucing tetangga sedang bermain di halaman. Biasanya, kucing itu bermain bersama saudaranya, jadi berdua gitu kejar-kejaran kadang sampai ke atap rumah. Kebetulan, sore itu si Moli bermain sendirian. Sudah beberapa hari sebenernya, saya perhatikan kucing ini nggak punya temen. Usut punya usut, ternyata si Gendut, sodaranya Moli, ilang entah mati atau tersesat. Yang jelas, si Gendut nggak pernah kembali lagi. 


Dari situ saya pelan-pelan mengenalkan arti kata “mati” pada Kevin. Dimulai dari kematian pada hewan, lalu berlanjut kepergian seseorang ke surga alias meninggal. Tentu saja, saya tidak menjelaskannya dalam sekali tempo saja tapi dalam banyak kesempatan yang memang memungkinkan kami membahas soal hal ini bersama. So, perlahan-lahan Kevin mulai mengerti apa artinya orang meninggal dan kenapa dia nggak bisa kembali lagi.


Tapi, again… semua itu nggak semudah menggoreng tahu bulet, pemirsah! Butuh waktu dan kesabaran dalam menjelaskannya pada anak, sampai pada tahap dia memahami dengan benar. 


Well, dalam kasus saya, Kevin memang enggak menangis atau rewel sama sekali sampai saat ini. Setiap kali ingat sama titinya, dia hanya akan menanyakan beberapa hal ringan seperti, “Titi tuh sejak kapan sih meninggalnya? Kok aku nggak tahu.” Atau ungkapan lucu semacam, “Di surga kan titi nggak makan lagi.. kata Mami kan gitu?” saat kami bercanda titi lagi makan apa ya .. gitu hehe. 


Jadi Moms, penting banget loh ngajak anak berbincang tentang hal-hal yang mungkin buat sebagian orang tu tabu atau belum saatnya. Banyak orang di luar sana yang masih ngerasa tabu dan nggak mau ngebahas sesuatu yang menurut mereka terlalu berat buat anak. Padahal ya Moms, anak itu bisa memahami kok asalkan kita pinter-pinter nyari waktu yang tepat, dan pakai bahasa yang sederhana aja. Mereka mungking emang nggak akan langsung komen atau ngerti dalam sekali pembahasan. Tapi…. otak kecilnya itu ngerekam dengan baik dan pada saat di butuhkan nanti akan nge-restore data dengan tepat. 


That’s what happens to me, exactly. Saya memulai pembahasan tentang konsep kematian ini saat Kevin umur 2 atau 3 tahun, dan sekarang di usia 6,5 tahun konsep itu udah dia pahami 90 persen dengan benar. Dia tahu kalau titinya meninggal, pulang ke surga, nggak bisa kembali lagi dan dia nggak akan bisa ketemu lagi. Selain itu, dia juga nggak bertanya kenapa titi dimasukin peti dan dikubur di tanah. Dia cuman agak bingun kenapa gundukan tanah tempat titi kemarin nggak ada? Kenapa diganti dengan batu hitam yang ada gambarnya titi? Saya jelasin kalau itu adalah nisan, monumen tempat titi disemayamkan, biar bersih dan rapih. Jadi kalau sewaktu-waktu dia ke makam titi, jadi udah indah. Kevin kecil manggut-manggut sambil memutari nisan marmer hitam yang baru saja kami pasang.


So Moms and Dads, saya memang beruntung dikasih kesempatan berbincang dulu dengan Kevin dan menyiapkan dia dengan segala hal tentang kepergian titinya. Meski, jujur, waktu ngajak dia ngobrol juga nggak kepikiran kalau saat ini akan sampai juga akhirnya. 


Bagi Moms and Dads yang kebetulan dikasih kesempatan memiliki putra-putri yang belum memahami dengan baik arti kematian, ada baiknya mulai persiapkan sejak sekarang. Terutama jika dalam keluarga ada anggota keluarga lain yang sudah sepuh, tengah sakit, atau apapun. Sebab, kita nggak pernah tahu kapan perpisahan itu tiba. Bisa besok, minggu depan, tahun depan, anytime! Seperti yang saya alami kemarin. 


Dan buat kalian yang saat ini tengah mengalami perpisahan seperti saya, dan buah hati sepertinya masih sulit untuk menerima keadaan ini, bersabarlah. Beberapa langkah di bawah ini mungkin bisa membantu:

1.Biarkan anak meluapkan emosinya

Bagi sebagian orang, meluapak emosi di depan umum itu pamali, tabu, enggak boleh. Padahal, kita butuh pelampiasan untuk menyalurkan emosi yang ada dalam jiwa. Menekan dan membungkus rapat-rapat emosi dalam diri justru bukan pilihan yang bijak untuk memulihkan diri. Bagaimanapun juga, anak-anak adalah pribadi yang harus dipuaskan kebutuhannya, termasuk kebutuhan emosional ini. Dengan mengizinkannya meluapkan segala emosi (marah, bingung, takut, cemas, sedih, dll), kita sedang membantunya menjalani proses pemulihan dan menyiapkannya untuk bangkit kembali. 


2.Dampingi anak dan berilah dukungan padanya untuk melewati semua ini.

Pendampingan orangtua sangatlah penting, terutama saat anak menghadapi kondisi yang sulit dan mungkin membingungkan seperti kehilangan orang terdekat seperti ini. Sebisa mungkin, sediakan waktu mendampingi anak, dengarkan curhatannya, dan ungkapkan dukungan kita sesering mungkin. Katakan bahwa apa yang saat ini dia rasakan adalah wajar, kesedihan itu normal dan Moms/Dads akan ada di samping mereka melewati semua ini. 


3.Perlahan, ajak anak memahami kematian sebagai siklus kehidupan yang harus dilalui

Saat anak telah mulai bisa mengontrol emosi, sudah mulai release lagi, ada baiknya kita mulai mengajaknya memahami bahwa kematian adalah siklus yang akan dihadapi setiap orang, kapanpun. Karena itu, kita harus siap saat waktu itu datang. Ingat, pakai bahasa yang mudah dimengerti ya, dan jangan memaksa saat anak kalau dia terlihat belum siap. Ikuti saja ritmenya. 


4.Tawarkan kegiatan yang menarik untuk mengalihkan fokusnya 

Untuk mengalihkan perhatian dan fokusnya, ada baiknya kita mulai mengajaknya melakukan hal-hal yang menyenangkan. Seperti bersepeda, makan makanan kesukaan, berlibur sejenak, atau hal-hal lain yang dia sukai. 


Saya sendiri terkadang masih suka ups and downs saat keingetan almarhumah ibuk. Apalagi anak-anak. Karena itu, saya juga nggak mau memaksa diri untuk secepatnya melupakan kepergian ibuk dan bersikap ceria yang lebai, untuk menunjukkan pada dunia bahwa saya baik-baik saja. Seperti Kevin yang masih butuh adaptasi dengan ketiadaan eyangnya, saya pun begitu. Kami semua butuh waktu untuk bisa setegar dulu. Tak mengapa, waktu yang panjang itu akan menjadi jalan untuk kami berproses. 


Thank you uda mau baca curhatan Mommy Kevin ini ya Moms and Dads.. semoga secuil kisah kami ini bisa memberi pencerahan buat kalian semua, bahwa selama mereka masih ada, bahagiakanlah orang tua, kakak, adik, anak-anak, dan semua orang yang kalian sayangi. Kita nggak pernah tahu kapan waktu kita bersama mereka akan usai.. karena itu tabunglah memori, tumpuklah cerita dan lukislah kisah indah yang akan terus terpatri dalam sanubari. 


Salam!





6 comments:

  1. Wah, ini sangat membantu, Mbak Bet. Kita nggak tahu kapan perpisahan itu akan terjadi. Mempersiapkan si kecil lebih baik ketimbang kita kelabakan saat sudah waktunya tiba.

    ReplyDelete
  2. Ya Allah, jadi ikut sedih mendengarnya, semoga Kevin bisa mengatasi rasa kehilangan Eyang Putrinya, dan buat Simbok juga bisa menerima dengan sabar. Saya juga sudah mulai sedikit demi sedikit menyiapkan hati anak-anak agar bisa menerima jika suatu saat orang yang dicintainya meninggal.

    ReplyDelete
  3. Ya Allah, jadi ikut sedih mendengarnya, semoga Kevin bisa mengatasi rasa kehilangan Eyang Putrinya, dan buat Simbok juga bisa menerima dengan sabar. Saya juga sudah mulai sedikit demi sedikit menyiapkan hati anak-anak agar bisa menerima jika suatu saat orang yang dicintainya meninggal.

    ReplyDelete
  4. Saya masih belum kuat mbak memberikan pengertian tentang kematian ini kepada anak, terutama yang menyangkut kita ayah bundanya. Pernah saya coba, eh baru beberapa kata sudah mewek duluan, akhirnya anak saya yang sulung ikutan berkaca-kaca, hiks. Tetapi memang perlu ya mbak, kan kita tidak tahu umur kita sampai kapan. Makasih mbak Bety sudah berbagi. Nanti akan kita coba lagi berbicara dari hati ke hati dengan anak.

    ReplyDelete
  5. "tabunglah memori, tumpuklah cerita dan lukislah kisah indah yang akan terus terpatri dalam sanubari" quote of the day.
    makasih banyak mbak, sangat menginspirasi walaupun tiap kali bicara tentang hal seperti ini, yang ada tercekat di tenggorokan kalimatnya

    ReplyDelete
  6. Terima kasih tipsnya mbak. Saya jadi kebayang juga sama saudara perempuan (sepupu) yang meninggal dan sudah punya 3 anak. MasyaAllah, saya yang bukan anaknya saja sedih, apalagi mereka 😭

    ReplyDelete

Hi there!

Thank you for stopping by and read my stories.
Please share your thoughts and let's stay connected!

Bottom Ad [Post Page]