Post Page Advertisement [Top]

"Bu, Kevin ini anak yang spesial loh. Nggak banyak orang yang terlahir dengan gift seperti dia. Hanya 3 dari 100 orang yang memiliki keistimewaan seperti Kevin. Jadi, ibu dan bapak juga harus men-treatment dia dengan istimewa,” ucap bapak-bapak di depan saya setelah menganalisis sidik jari Kevin.

Beberapa hari sebelumnya, Kevin memang mengikuti tes analisis sidik jari yang digagas pihak sekolah bekerja sama dengan salah satu lembaga di Jogja. Dulu, waktu Rafael kecil juga mengikuti tes semacam ini, dan karena menurut saya hasilnya bantu banget buat mengenali karakter anak, makanya saya nggak ragu lagi mengikutkan Kevin dalam tes yang sama.

Meskipun judulnya tes, tapi kita nggak perlu khawatir sih. Soalnya, anak-anak nggak disuruh ngerjain apa-apa, selain diambil sidik jarinya doang. Dan itupun nggak takes time. Cukup 5-10 menit semuanya kelar. Yes, as simple as that! Hasilnya bisa diketahui dalam beberapa hari ke depan.

Saya menyusuri layar laptop yang berkedip-kedip di hadapan saya. Tangan si bapak menggerak-gerakkan mouse dan beberapa kali beralih ke layar sambil menjelaskan masing-masing sidik jari yang muncul di sana. Saya manggut-manggut menatap layar biru yang berganti-ganti gambarnya itu.

Baca juga yang ini : Tips Mencari Sekolah yang Tepat untuk Anak

“Dengan karakteristik dasar Kevin yang seperti ini, orangtuanya harus memberikan banyak kesempatan untuk dia bereksplorasi ya Bu. Nggak usah banyak dilarang ini itu, dia akan bisa berkembang dengan maksimal. Dia punya unlimited ability yang hanya bisa berkembang maksimal kalau bapak dan ibu ijinkan. Di sisi lain, Kevin juga punya kemauan yang keras, dia sangat menggemari target, dan suka berkompetisi. Dia berbakat menjadi leader dan memiliki kemampuan interpersonal yang sangat kuat. Biarkan dia membangun bonding dengan lingkungannya dengan baik.” Si bapak masih melanjutkan penjelasannya barusan.

“Lalu gimana dengan sisi kecerdasannya, Pak?” Saya nyelo dengan pertanyaan yang jamak dilontarkan oleh orangtua. Ya, apalagi sih yang nggak jadi perhatian ortu kalau bukan masalah kepandaian? Yekaaan?

Alih-alih menjawab, si bapak tersenyum sama saya sebelum berujar, “Tenang Bu, semua anak punya kecerdasannya masing-masing. Nggak perlu kawatir, mereka semua akan berkembang maksimal kalau kita menstimulasinya dengan tepat. Nanti kami jelaskan gimana caranya.”

Haha.. aduuuh jadi malu saya. Ketauan deh keponya simboke Kevin ini. Muka saya kayaknya uda ketauan banget pengen tauk gitu.

“Jadi, berdasarkan hasil analisis yang kami lakukan ini, Kevin itu cenderung lebih banyak memakai otak kanan ya Bu. Kemampuan logika matematikanya paling menonjol ketimbang yang lain. Setelah itu, dia juga memiliki kemampuan visual spasial yang sangat kuat, serta verbal language yang tinggi. Sementara itu, dia juga sangat nyaman dan menikmati waktu-waktu berkesan dan reward. Jadi, usahakan bapak sama ibu mendukung dan memfasilitasi talenta dan bakatnya yang seperti ini.”

Saya makin manggut-manggut antusias mendengarkan penjelasan si bapak. Memiliki dua anak “otak kanan” membuat saya langsung kebayang deh gimana yang akan trjadi di masa depan. Yes, Rafael, si Mbarep, juga anak “otak kanan” yang lebih dulu membutuhkan treatment khusus saat masih kecil dulu.

Gimana nggak spesial, Rafael kecil di usia 3 tahun udah bisa bikin lego yang rumit -menurut ukuran anak seusianya- Di usia TK dia sudah bisa merakit lego citi dalam waktu 2 jam tanpa bantuan, membuat lukisan yang sangat detail, dan menghafalkan notasi lagu-lagu yang saya aja nggak ngerti. Bukan nyanyi loh, ya. Tapi memainkan alat musik dengan notasi liriknya.

Bacaan terkait : Manfaat Finger Painting untuk Kecerdasan Anak

Yang bikin saya agak pusying adalah saat mengajarinya belajar. Terutama matematika dan bahasa, serta hafalan. Nah kan susah ya Moms. Itung-itungan dia gak tertarik, menghafal pun gak mudah baginya. Sementara belajar Bahasa menjadi momok yang menakutkan baginya, sampai-sampai beberapa kali dia nervous parah dan mual-mual saat pelajaran bahasa asing di sekolahnya. Hiks...

Sebelum mengenal dan memahami karakteristiknya, saya sempet stress. Rasanya nightmare banget kalau udah jamnya belajar tiba. Nggak hanya saya yang abis akal, Rafael juga tertekan dengan bermacam tugas dan pelajaran yang harus dia kerjakan.

Thanks God, dengan adanya hasil analisis sidik jari yang dia ikuti, saya jadi lebih paham kondisinya dan mulai mencari cara yang tepat untuk mengajarinya belajar. Salah satu cara yang saya pakai adalah dengan memakai metode mind mapping saat Rafael harus menghafal. Ini jauh lebih mudah baginya, ketimbang membaca deretan kalimat yang pada akhirnya nggak satupun yang nyantol di otaknya. Huhuhu….

How to treat right brained children
Sumber gambar : harapanrakyat.com


Mengenal Kedua Belahan Otak

Sebelum bicara lebih lanjut soal anak-anak otak kanan saya, yuk kita mengenal lebih dekat soal otak kita. Jadi manusia itu punya dua belahan otak, yakni otak kanan dan otak kiri. Masing-masing memiliki fungsi yang berbeda. Secara natural dan genetis, manusia cenderung lebih banyak memakai pola atau metode pemikiran tertentu. Meski demikian, sebenernya kedua belahan otak ini sangat sulit dipisahkan begitu saja. Ya kayak sendal jepit deh. Ke mana-mana harus berdua #halah oposeh#

Nah, menurut para ahli nih, otak kanan dan otak kiri punya “wilayah’’ nya sendiri-sendiri. Hihihi kok jadi kayak geng-gengan gitu ya Moms. Penasaran nggak sih gimana pembagian wilayah otak ini? Kuy kita lanjut ya…

Otak Kiri

Bagian otak ini berhubungan dengan logika, rasio, kemampuan kognitif (membaca dan menulis), serta pusat Intelligent Quotient (IQ).

Otak Kanan

Berhubungan dengan seni, kreativitas, musik, ekspresi, serta menjadi pusat dari Emotional Quotient (EQ)

So, berdasarkan pembagian wilayah otak tadi, kita bisa menemukan beberapa tanda yang biasanya ditemui pada orang-orang yang “cenderung otak kanan” atau “cenderung otak kiri”


Ciri-ciri orang yang dominan otak kanan

  • Biasanya mereka kurang menyukai pelajaran yang “memaksa” otak bekerja keras seperti matematika, Fisika, Kimia, dan ilmu sains lainnya. Mereka akan lebih memilih pelajaran seni, bahasa, dan hal-hal lain yang imajinatif. Mereka cenderung intuitif dan kurang mementingkan fakta saat mengambil keputusan. Mereka juga sangat peka dan sensitif.
  • Dalam dunia kerja, orang otak kanan senang berada dalam bidang sosial, kreatifitas, seni, dan yang berhubungan dengan manusia seperti PR.
  • Mereka kurang nyaman dengan keteraturan dan lebih menyukai kebebasan. Senang jalan-jalan, menikmati suasana, berpetualang dan mencoba hal-hal baru. Mereka juga bisa menghafal dengan cepat tempat-tempat, logo, tanda-tanda atau petunjuk jalan yang ditemui sepanjang perjalanan. Nggak hanya itu, anak-anak otak kanan juga gampang banget ngafalin berbagai jenis benda seperti merk mobil, jenis pesawat, dan banyak lagi bahkan di usianya yang masih sangat kecil.
  • Sering kali susah berkonsentrasi pada hal-hal yang kurang diminati, tapi sangat berkonsentrasi pada hal-hal yang dia sukai. Pada beberapa anak, bisa juga mengalami kesulitan belajar. Mereka juga sering bicara nggak nyambung dengan topik atau pertanyaan yang diajukan. (duh ini Rafael banget hahaha).
  • Suka banget permainan merancang sesuatu seperti lego. Kenapa? Karena mereka bisa bebas berimajinasi dan membuat aneka macam barang sesuai keinginan.
  • Sebagian besar anak-anak otak kanan sulit membedakan huruf d dan b, W dan M serta susah mengeja suku kata. Selain itu mereka juga sulit mengerjakan soal matematika yang penuh rumus dan logika. Terkadang, ada juga yang kesulitan mencerna soal cerita. Mereka kurang suka mencatat. Tapi suka banget menggambar hehehe. 
  • Anak-anak otak kanan biasanya suka termenung, memandang ke atas dan seperti mencari ide atau wangsit (day dreaming).


Ciri-ciri orang yang dominan otak kiri

  • Menyukai pelajaran yang mengandalkan logika seperti matematika, IPA, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan sains. Mereka lebih mudah memahami simbol-simbol seperti angka, huruf, atau rumus. Mereka juga lebih nyaman melakukan segala sesuatu berdasarkan teori dan jarang-jarang yang mau berimprovisasi. Jadi kalau perintahnya A ya mereka akan melakukan A aja.
  • Orang otak kiri cenderung cocok bekerja sebagai peneliti, teknisi, akuntan, dokter dan ilmuwan lainnya.
  • Lebih mengutamakan logika dalam pengambilan keputusan, disiplin, berpikir taktis, mementingkan fakta, menyukai keteraturan, jadwal yang terplanning dan mudah memahami konsekuensi tertentu.
  • Mereka juga penuh perhitungan matang sebelum melakukan sesuatu. Mereka suka melakukan sesuatu sesuai planning, urutan dan time line yang sudah ditentukan.

how to treat right brained children

Lalu, manakah yang lebih bagus? Dominan otak kanan atau otak kiri?

Jawabannya tidak ada yang lebih bagus. Karena sekali lagi, kedua belahan otak ini bukannya berdiri sendiri-sendiri dan terpisah begitu saja. Tetapi, keduanya berjalan selaras meski tetap ada bagian yang lebih mendominasi.

Menurut penelitian, sebagian besar manusia di dunia ini lebih dominan menggunakan otak kirinya. Kenapa? Karena kecenderungan pola belajar di seluruh dunia ini didominasi dengan hal-hal yang mengasah kemampuan otak kiri seperti membaca, menulis dan berhitung.

Kadang-kadang anak-anak otak kanan sering dianggap “nakal” atau “bodoh” hanya karena nilai akademisnya di sekolah kurang cetar. Huhuhu… 


Padahal nggak gitu juga kaliii.. mereka itu nggak bodoh. Mereka hanya butuh treatment berbeda untuk memaksimalkan potensi dan karakter mereka yang out of the crowd. Nah… di sinilah tugas ortu untuk memahami karakter anak dan melakukan treatment yang tepat.

Berhubung anak-anak saya otak kanan semua, saya jadi harus berimprovisasi juga nih Moms hahaha. Kurang lebih begini yang saya lakukan bersama mereka.


  • Karena otak kanan suka hal-hal yang menarik minatnya, maka sebisa mungkin saat mengajarii mereka belajar, saya akan mengajak mereka menemukan apa yang menarik perhatiannya saat itu. Misalnya mobil. Maka saya akan bercerita tentang mobil dan memancing mereka untuk terlibat. Baru setelah itu saya memasukkan materi belajarnya. Contohnya 4 roda mobil ditambah 4 roda mobil lagi jumlahnya berapa? Agak ribet sih, tapi it works! Ketimbang nulis angka 4+4= …
  • Terkadang anak otak kanan nggak betah duduk berlama-lama, terutama jika harus melakukan hal-hal yang kurang dia sukai, termasuk belajar. Apalagi kalau anak otak kanan yang dominan kinestetiknya huaaa… capek Marimar nyuruh dia duduk anteng. Jadi, saya membolehkan mereka belajar dengan metode suka-suka. Mau sambil nungging, boleh, sambil jalan-jalan boleh, sambil tempel-tempel di dinding pun boleh. Selama itu membantu mereka menghafal atau mempelajari sesuatu, sok aja sayamah.
  • Meskipun cara berpikir anak otak kanan cenderung acak/random, tapi mereka menyukai target yang terukur. Jadi, saya suka memberi pancingan mereka untuk menentukan target apa yang mereka inginkan. Misalya, Kevin mau nanti sore bisa mewarnai gambar kelincinya sampai selesai. OK, noted. Sorenya saya akan mengajaknya menyelesaikan planningnya itu. Demikian juga si kakak yang dengan sukarela menabung demi membeli peralatan musik yang dia inginkan. Kenapa sukarela? Karena dia suka, dan emang pengen punya peralatan itu untuk mendukung hobi bermusiknya. Saya nggak nyuruh-nyuruh dia beli ini itu loh, semua murni dari keinginannya sendiri. 
  • Anak otak kanan berpikir dengan cara pandang deduktif, yakni melihat big picturenya, baru mengerucut ke detailnya, maka saya harus mengajak mereka berpikir apa sih untungnya belajar buat mereka di masa depan? Dengan memahami tujuan akhir yang ingin dicapai, lebih mudah bagi saya men-drive mereka untuk belajar tanpa harus teriak-teriak nyuruh ini itu macam tarzan kota.
  • Anak otak kanan saya cenderung menyukai gambar jadi saya menggunakan metode mind mapping untuk mengajarinya belajar. Ya nggak semua pelajaran juga sih tapi secara umum metode ini ngebantu banget. Bikin otak mereka terstimulasi lebih cepat ketimbang nyuruh mereka membaca kalimat demi kalimat panjang yang membosankan.
  • Karena anak-anak otak kanan sangat peka dan sensitif perasaannya, akan sangat membantu untuk membuat proses belajar menjadi suasana yang menyenangkan dan nggak membebani. Saya juga sering kali mengajak Rafael ngobrol bahwa saya bangga sama dia, apapun kondisinya. Saya motivasi dia untuk menemukan kelebihannya dan berprestasi di bidang itu. Masa depan nggak hanya milik mereka yang jago matematika atau kimia dan teknik. Dunia ini nggak hanya butuh dokter dan ilmuwan tapi juga artis dan pekerja seni yang talented.

Karena itu saat dia memutuskan untuk masuk SMK instead of SMA, saya dan papinya pun tak keberatan. Walaupun tetap, keputusan itu diambil setelah proses diskusi yang panjang dan komprehensif. Saya nggak ingin menyesal di kemudian hari karena memaksakan keinginan saya pada anak-anak.

Memiliki anak-anak yang "berbeda" memang nggak mudah. Di saat orang lain hepi anak-anaknya melakukan A, sementara anak kita "hanya" bisa melakukan B, seringkali bikin kita minder. Atau, saat anak-anak yang lain femes di sekolah, dan anak kita masuk golongan "marginal" kadang bisa bikin kita down.

💕But I wanna tell u something, Moms. Being different itu nggak papa. It's not a mistake nor a sin. They are just simply special, so we have to treat them in a special way.💕


Percayalah, ada jutaan bintang yang sama-sama bersinar di langit sana. Demikian juga anak-anak spesial kita pasti akan bersinar sama terangnya dengan yang lain, dalam cara yang berbeda.


Happy parenting, Moms and Dads!



11 comments:

  1. Wiwin | pratiwanggini.netFebruary 26, 2020 at 11:26 PM

    Anakku banget mba, dominan otak kanan. Untuk yang gede udah pernah tes sidik jari juga. Itu bikin aku lebih rileks (sebelumnya galau melulu). Anakku pernah di SMK, trus pindah ke SMA. Untuk yang adiknya aku belum tahu pasti, tapi sepertinya mirip-mirip kakaknya juga. Sekarang masih umur 2 tahun 5 bulan.

    ReplyDelete
  2. Tulisannya kereeen, Mbak Bety :)
    Saya otak kiri banget niy, Mbak, cocok banget sama ciri-ciri yang Mbak Bety tuliskan hehe...

    ReplyDelete
  3. Kira-kira Dewi dominan dimana ya, suka seni tapi susah menghafal. Suka bertualang tapi ya juga suka matematika, sampai kalau ada rumus tuh harus tuntas ketemu hasilnya. Tapi kalau Dewi lihat si sulung lebih terlihat dominan otak kanan, apa kira-kira kita juga serupa dengan anak kita ya mbak?

    ReplyDelete
  4. Ulasan yang lengkap Mbak..Yang perlu disyukuri satu si kakak dan adik bertipe sama otak kanan dominan..jadi tinggal repeat pola asuhnya dan disesuaikan dengan karakter anaknya

    Saya dua anak beda, si kakak dominan kiri si adik kanan. Jadi enggak bagusnya kadang mbandingin dulu kakaknya ga perlu ngoyo banget gampang belajarnya dan bagus-bagus nilainya, si adik eggak suka sama yang namanya belajar ..heuheu

    ReplyDelete
  5. Menarik sekali ulasannya mbak, kalau boleh ada artikel lagi tentang penjelasan lebih dalam mind mapping yang mbak terapkan di rumah. Saya mau coba menerapkan juga untuk anak saya. Terima kasih.

    ReplyDelete
  6. Mantul tulisanb Beti...manrap, detil dan jreng membuka pikiranku...haha...jadi neh yangana anak yg menggunakan otak kiri dan kanan. Tahu ciri-cirinya. Makasih ya mba, nambah ilmu lagi.

    ReplyDelete
  7. Setiap anak memiliki kecerdasan masing-masing ya, Mbak. Kalau sudah tau letak kecerdasan anak jadi lebih mudah untuk memberikan stimulasinya

    ReplyDelete
  8. Ini anak pertama aku banget, mbak. Bahkan mereka ini hampir seperti perfeksionis. Terus kalau sudah memperhatikan sesuatu itu dengan detail dan cepat untuk menangkapnya.

    Makasih untuk tulisannya ya, mbak :)

    ReplyDelete
  9. tulisan ini jadi materi pembelajaran baik nih, dapet ilmu baru untuk treat anak.. mantap

    ReplyDelete

Hi there!

Thank you for stopping by and read my stories.
Please share your thoughts and let's stay connected!

Bottom Ad [Post Page]