Begini Cara Saya Menjalani Hidup Sebagai Ibu Bahagia

Tips mengatasi baby blues syndrome




Menjadi ibu adalah sebuah kebahagiaan luar biasa bagi setiap perempuan. Memiliki anak yang lahir dari rahim kita sendiri tentu merupakan keajaiban yang tak bisa dibandingkan dengan apapun juga, ya Moms? Apalagi jika kehadiran si kecil sudah lama dinantikan. Begitu dia hadir ke dunia, rasanya semua sakit dan lelah hilang sudah, terganti dengan sukacita dan bahagia tak terkira.

Sebelum punya baby, saya selalu membayangkan kehidupan yang perfect bersama makhluk mungil yang lucu dan menggemaskan itu. Pipi gembul, bau asem yang ngangenin, plus tertawanya yang sangat indah. Tapi oh tapi.... ternyata semua itu nggak sepenuhnya benar. Malam-malam panjang yang heboh dengan tangisan, rengekan atau justru mata lebar yang nggak ngantuk-ngantuk dari anak, menjadi horor tersendiri.

Saat memiliki anak pertama, saya sempat terjangkiti Baby Blues Syndrome. Mungkin ya karena faktor kelelahan itu tadi. Bayangin, Moms, dalam sehari saya hanya punya waktu nggak lebih dari 3-4 jam untuk tidur. Itu pun hasil akumulasi selama 24 jam. Si adek hanya mau tidur dalam gendongan saja. Bahkan untuk buang air kecil atau makan, saya harus tetap menggendongnya. Kalau nggak, dia akan menangis keras dan lama. Hiks.

Akibat Baby Blues Syndrome itu, saya sempat linglung dan mengabaikan anak. Boro-boro merasa happy, menjadi ibu seakan “nightmare”. Tangisan anak saya menjadi sesuatu hal yang sangat menakutkan dan memaksa saya menutup telinga sambil merem. Saya benar-benar exhausted dan sangat mendambakan “kebebasan” menjadi diri sendiri. Saya bahkan sempat “membenci” anak saya sendiri dan memutuskan untuk tidak hamil lagi. Wew, parah banget ya Moms?



Well, berdasarkan penelitian, hampir 90% ibu melahirkan mengalami Baby Blues Syndrome loh. Tingkat keparahannya bervariasi, dari yang ringan hingga parah. Untungnya, sindrom ini nggak terlalu lama saya alami dan levelnya pun masih dalam tahap ringan. Sekitar 3 minggu berlalu sejak melahirkan anak pertama, saya mulai bisa berdamai dengan keadaan.

Delapan tahun berlalu setelah melahirkan, trauma saya perlahan hilang. Saya pun berani untuk hamil lagi (dengan banyak pertimbangan dan harapan). Berbekal pengalaman mengasuh anak pertama, saya bertekad untuk menjadi ibu bahagia. Saya nggak mau menyerah pada Baby Blues Syndrome. Puji Tuhan, saya berhasil melewati 9 bulan masa kehamilan plus 2 tahun masa menyusui dengan happy. Yaa... meski terkadang ada saat di mana saya merasa down, lelah dan sangat ingin me time hehehe.. Paling tidak, saya jauh lebih menikmati masa-masa golden ages anak kedua ini.



Nah, kali ini saya ingin berbagi sama Mommies semua. Gimana sih cara saya menaklukkan Baby Blues Syndrome dan menjadi ibu yang happy.



Yakin dan siapkan diri menjadi ibu

Tips mengatasi baby blues syndrome


Yes! Menjadi ibu itu nggak pernah mudah. Karena itu, kita harus benar-benar siap lahir dan batin. Menjadi ibu itu harus rela berbagi segalanya dengan belahan jiwa. Waktu, tenaga, emosi, cinta dan semuanya. So, sebelum memutuskan untuk hamil, rencanakan segala sesuatunya dulu dengan baik. Oke?



Cukup istirahat

Tips mengatasi baby blues syndrome


Adanya bayi baru sangat menyita waktu dan tenaga. Hal ini memang tak dapat dipungkiri. Namun, bagaimanapun juga kita tetap harus memiliki istirahat yang cukup agar nggak sakit. Sebagian ibu muda menjadi agak lemah pasca melahirkan dan butuh masa pemulihan cukup lama. Hal ini juga saya alami, terutama pada anak pertama yang masih minim pengalaman dan bantuan. Dengan tidur yang cukup, mood ibu akan lebih terjaga dan tidak gampang marah.


Trus gimana caranya bisa tidur dengan bayi yang aktif?

Mintalah bantuan dari orang terdekat, misalnya  orang tua, baby sitter, ART atau suami. Jangan kecut hati dulu Moms, pasti ada jalan keluar untuk hal ini, meski nggak selalu mudah. Saat anak pertama, selama 3 bulan setelah melahirkan, saya nggak punya asisten sama sekali. Seluruh urusan rumah dan anak 100% saya dan suami yang handle. Kebayang kan gimana jungkir baliknya kami berdua? Beruntung masuk bulan ketiga, kami menemukan seorang ART yang cukup gesit dan kapabel. Jadi, saya sangat terbantu. Apalagi setelah saya kembali bekerja.



Asupan makanan bergizi

Tips mengatasi baby blues syndrome


Bayi kecil menggantungkan hidup kepada kita, ibunya. Karena itu, kita harus menjaga kesehatan. Pastikan untuk selalu mengonsumsi aneka makanan yang bergizi seimbang, ya. Percaya enggak kalau tubuh yang menerima asupan gizi yang cukup, akan mengirimkan sinyal bahagia ke otak? Saya sih sangat percaya.

Selama masa menyusui anak kedua, saya sangat menjaga pola makan. Sebisa mungkin saya makan sayur mayur dan buah dalam porsi sangat cukup. Ikan, ayam, telur dan kacang-kacangan menjadi prioritas menu harian saya.

Oya, beberapa makanan bisa saja menjadi pemicu alergi pada bayi yang mendapatkan asupan ASI eksklusif ya Moms. Jadi, jangan sembarangan mengonsumi makanan atau minuman semisal pedas, seafood, buah yang “panas” dan sebagainya. Untungnya kevin, anak kedua saya, tahan sama cabai. Jadilah saya mengonsumsi makanan pedas setiap hari, dan dia fine-fine aja hehe.. Pada beberapa ibu, hal ini mungkin saja nggak cocok ya. so, sesuaikan dengan kondisi masing-masing.





Berbagi beban

Tips mengatasi baby blues syndrome


Beradaptasi dengan hal bayi baru, sangat menguras tenaga dan emosi. Karenanya, jangan menanggung beban itu seorang diri. Carilah orang lain untuk berbagi. Suami, orangtua, asisten rumah tangga, saudara, atau baby sitter bisa dimanfaatkan untuk membantu kita mengurus si kecil. Menanggung semuanya seorang diri hanya akan membuat kita stres  dan cepat marah. Inilah yang saya alami saat anak pertama.

Sok kuat dan merasa diri bisa, akhirnya saya malah terpuruk dan terkena Baby Blues Syndrome. Karena itu, pas anak kedua lahir, saya lebih rileks,  nggak mau ngoyo. Saya berbagi dengan banyak orang yang ada di rumah dan berusaha menikmati waktu-waktu bersama si kecil.




Jangan lupakan ”me time”

Tips mengatasi baby blues syndrome


Punya bayi nggak berarti kita harus kehilangan waktu untuk diri sendiri, lho. Memiliki kegiatan pribadi meski hanya hal-hal sederhana, sangat penting. Sesekali, saya juga memberi hadiah untuk diri sendiri. Meski hanya berupa segelas coklat hangat, mandi air hangat atau menonton film kesukaan sambil memberi ASI kepada si kecil. Kalau kebetulan pas selow, saya pergi ke salon untuk merawat diri. Tentu saja, harus bekerja sama dengan suami untuk menghandle anak-anak. Dan, waktunya juga nggak lama-lama. Hehe..


Saya sadar, memiliki anak berarti memiliki generasi penerus yang akan menjadi kebanggaan kita di masa depan. Karena itu, saya selalu berupaya untuk bersyukur kepada Tuhan akan karunia terindah ini. It’s just a matter of time. Anak-anak enggak akan selamanya menjadi anak-anak. Mereka akan dewasa dengan cepat dan suatu hari nanti kita akan merindukan celoteh, tangisan, bahkan omelannya saat makanan yang kita sajikan nggak mereka sukai. So, Mommies, mari nikmati saat-saat terindah menjadi ibu baru. Meski nggak mudah, yakinlah bahwa mereka adalah bintang dari surga yang jatuh tepat di pelukan kita. Jadi, jangan lupa bahagia ya, Mommies!




“Motherhood is not about your own happiness. 

It’s about you and your child’s.”








Begini Cara Saya Menjalani Hidup Sebagai Ibu Bahagia Begini Cara Saya Menjalani Hidup Sebagai Ibu Bahagia Reviewed by Bety Kristianto on March 06, 2019 Rating: 5

9 comments:

  1. Teringat ketiganya empat tahun berbarengan, sempat baby blues karena stress subhanallah beratnya

    ReplyDelete
  2. Motherhood is not about your own happiness. I's about you and your child's

    Sepakat dengan ini. Karena kalau Ibunya bahagia bayinya pasti juga.
    Maka, seharusnya pasca melahirkan ada dukungan penuh dari suami, keluarga besar dan lingkungan. Karena jika tidak pasti baby blues syndrome bisa menghampiri.
    Ulasan yang infoematif Mbak Bety:)

    ReplyDelete
  3. Bener banget Tim Work. Beuraaat kalau pakepuk sendirian. Minimal, nyempetin nyeruput teh manis anget. Seringnya kaan tehnya keburu dingin. Anak saya dulu sampil ngASIhi, cek-cek Olsop. Hehe...

    ReplyDelete
  4. Emang ya, aku dulu juga shock pas baru jadi ibu. Kayaknya beda banget sama bayanganku. Apalagi Pak Bas di Jakarta aku di Magetan. Baiyuh, dobel-dobel kagetnya karena ngapa-ngapain sendirian. Kalau diingat-ingat kayaknya aku sempat baby blues juga. Tapi karena gak paham jadi ya nongas-nangis sendirian. Nah, kalau sekarang aku sudah aware banget. Tapi ya sepertinay aku nggak berniat punya baby lagi kok, huahahaha

    ReplyDelete
  5. Mbak, aku jadi ingat masa masa pertama menjadi ibu, tidur malam hanya 2 jam dari total waktu sehari 24 jam. Karena ga hanya menangani masalah babyblues, stress juga saat perlu menanggalkan karir di dunia industri, tapi alhamdulillah tidak sampai berdmpak ke anak. Larinya terus berkarya, dan buat blog, hehehe...
    Bener banget butuh team work, dl alhamdulillah mertua, suami dan ibu saya jadi teamwork yang baik banget.

    ReplyDelete
  6. Setuju banget mbak, ibu yang bahagia akan memberi kebahagiaan nya pada anak dan rumahnya. Kalo ibunya setres maka rumahpun bagai neraka

    ReplyDelete
  7. Setuju banget sama semua tipsnya, menjadi ibu merupakan amanah yang luar biasa indah, namun tetap harus dibarengi dengan ilmu dalam menjalaninya. Satu hal yang ternyata harus diperhatikan juga, untuk menjadi seorang ibu yang bahagia, diri sendiri pun harus bahagia. Karena berdampak pada pengasuhan terhadap anak.

    ReplyDelete
  8. Jangan lupa bahagia, Mommy 😍😍
    Itu kalimat sakti tu, Mbok.
    Every woman, every Moms deserve better 💋

    ReplyDelete
  9. Syukur kepada Tuhan itulah yang utama kan Mbak?

    Betapa banyak ibu di luar sana yang pingiiiin banget punya anak tetapi belum dikasi. Jadi itu bisa menjadi alasan kuat kita agar selalu bersyukur dan mengalahkan ego.

    ReplyDelete

Halo, saya Bety. Terima kasih sudah berkunjung ke blog ini. Yuk tinggalkan jejak di kolom komentar. 😊

Powered by Blogger.